IKJ Lantik Rektor Baru, LLDikti Langsung Beri Pekerjaan Rumah

    Citra Larasati - 23 Oktober 2020 18:07 WIB
    IKJ Lantik Rektor Baru, LLDikti Langsung Beri Pekerjaan Rumah
    Pelantikan Rektor IKJ Periode 2020-2024. Foto: YouTube
    Jakarta:  Ketua Yayasan Seni Budaya Jakarta, Slamet Rahardjo Djarot melantik Indah Tjahjawulan sebagai rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) periode 2020-2024. Indah merupakan perempuan kedua yang menduduki jabatan rektor di IKJ, setelah rektor perempuan pertama IKJ, Toeti Heraty di 1990-1996.

    Indah diangkat berdasarkan surat keputusan Yayasan Seni Budaya Jakarta tentang Pengangkatan Rektor IKJ periode 2020-2024.  Indah merupakan mantan Dekan Seni Rupa IKJ, ia menggantikan rektor sebelumnya, Seno Gumira Ajidarma.

    "Saya Ketua pengurus Yayasan Seni Budaya Jakarta dengan resmi melantik Dr. Indah Tjahjawulan  M.Sn sebagai Rektor IKJ 2020-2024. Saya percaya bahwa Saudara akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya serta penuh tanggung jawab," kata Slamet saat melantik Indah di Kampus IKJ, yang disiarkan secara daring melalui YouTube, Jumat, 23 Oktober 2020.

    Menurut Slamet, IKJ telah membuktikan kontribusnya terhada cita-cita Gubernur DKI Jakarta (1966-1977), Ali Sadikin yang ingin menjadikan Jakarta sebagai ibu kota berbudaya.  "Memang tidak mudah, tidak semudah apa yang disampaikan, karena hal-hal seperti kemerdekaan Indonesia masih banyak yang perlu dibenahi," imbuh Slamet.

    Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) wilayah III, Agus Setyo Budi yang turut hadir dalam pelantikan memberikan sambutan yang berisi masukan untuk peningkatan akreditasi IKJ.  Terutama terhadap profil IKJ yang disebutnya perlu mendapat pembenahan serius. 

    "Betapa kagetnya bahwa kampus kebanggaan semua orang. Saya tahu dalamannya IKJ kok 'keropos' begini. Saya harus ngomong apa adanya, Saya orang Fisika. biasa mengukur dengan apa adanya," terangnya. 

    Baca juga:  Jokowi Minta Fakultas Kehutanan UGM Berinovasi di Era Disrupsi

    Menurutnya, masa kejayaan IKJ dahulu tidak lagi terlihat kini.  "Saya penasaran, profilnya dari tahun ke tahun panjang sekali stagnan-nya (stagnasi) mau lihat naik titik baliknya ini belum ketemu. Mudah-mudahan (pelantikan rektor) ini adalah awal yang baik, karena dimulai dengan niat baik," terangnya.
     
     


    Agus membeberkan, berdasarkan data LLDIKTI III misalnya, ada sekitar 40 persen dosen di IKJ yang masih berstatus tenaga pengajar.  Meskipun tidak salah, namun hal ini akan mengganggu dalam proses pengajuan akreditasi IKJ.

    "Yang boleh mengajar (dihitung dalam akreditasi) itu minimal lektor, baru bisa dilepas, asisten ahli saja harus tandem, itu menurut Undang-undang.  Meski secara keilmuan tidak ada yang meragukan kompetensi dosen-dosen yang mengajar di IKJ," kata Agus.

    Namun ia berharap, seluruh sivitas akademika di IKJ tidak abai terhadap aturan perundang-undangan.  "Namun kalau kita abai terhadap SOP yang dibuat sendiri, abai terhadap perundang-undangan, status manusia yang berbudaya tadi akan terdegradasi. Ini tugas Bu Rektor, kami siap untuk berkerja sama. Karena Saya secara pribadi mendambakan titik balik IKJ naik cepat," terang Agus.

    Harapan ini menurut Agus tidaklah terlalu berlebihan, mengingat Indah adalah juga seorang asesor.  "Asal kita lihat tata kelola, kita tertib, contoh di instrumen kalau IKJ mau maju tinggal lihat input, proses, dan output, tinggal diikuti saja, pasti naik," ucapnya.

    Dalam kasus IKJ sendiri, Agus mengakui jika memang tidak mudah mengatur sivitas akademika yang berasal dari kalangan seniman.  "Orang seni itu biasanya 'malas' mengurus pangkat (Jabatan Fungsional Dosen)," kata Agus.

    Untuk itu, ia juga meminta kepada rektor baru IKJ agar mendorong dosen-dosen IKJ tersebut untuk disetarakan atau mengikuti Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). 

    "Bu Rektor tolong dosen-dosen IKJ yang kompetensinya tidak diragukan lagi ini untuk segera di RPL-kan, disetarakan. Tidak usah didorong-dorong kuliah doktor lagi.  Kompetensinya sudah di atas doktor.  Dibuat satu artikel, kemudian diuji layaknya ujian doktor, tinggal manggil expert saja. Kemudian hasilnya diserahkan ke kami. Nanti kami teruskan ke Dirjen Dikti untuk ditetapkan," terangnya.

    Bertambahnya jumlah dosen yang memenuhi syarat kepangkatan ini akan mengakselerasi rasio jumlah dosen dan mahasiswa di IKJ.  Hal ini juga menjadi salah satu komponen penilaian dalam akreditasi perguruan tinggi.

    "Sebab tenaga pengajar itu tidak dihitung dalam penilaian akreditasi (minimal lektor) di situlah akan memberatkan. Jadi salah kalau anggapan dari dosen-dosen yang penting Saya tidak ganggu orang. Justru itu mengganggu. Dengan dosen tidak naik pangkat, maka IKJ terganggu sekali, membebani. Saya yakin seyakin-yakinnya, jajaran yang di belakang Bu Rektor akan men-support sepenuhnya," beber Agus.
     
     


    Rektor Optimistis

    Menjawab tantangan LLDIKTI, Indah mengakui jika persoalan administrasi merupakan masalah yang telah lama menjadi Pekerjaan Rumah (PR) di IKJ. "Pertama kali tugas Saya memang harus ngeberesin perangkat manajemen pendidikannya. Semacam tata aturan sistem dan segala macam yang bersifat adminstratif, pelaporan-pelaporan, kalau di pendidikan itu semacam Jabatan Fungsional Dosen," terang Indah.

    Namun menurutnya penertiban administrasi di IKJ sendiri sebenarnya sudah beberapa waktu belakangan ini dimulai.  "Sebetulnya pelaporan itu setahu Saya sebagian selalu dilaporkan. beberapa prodi, masalah pelaporan SDM juga. Memang banyak seniman itu malas berhubungan sama urusan administrasi.  Tapi Saya optimistis semua ingin maju, Saya tidak khawatir meski tadi disebut 'keropos'," kata Indah.

    Kemudian terkait kenaikan jabatan dosen, menurutnya selama ini tidak semua menyadari pentingnya jenjang fungsional dosen tersebut.  Terutama untuk kaitannya dengan akreditasi. 

    "Kalau kualitas riilnya itu IKJ bagus, hanya saja menjadi tidak optimal saat diakreditasi karena persoalan itu," jelas Indah.

    Untuk itu, langkah pertama yang akan dilakukannya adalah menyiapkan tim SDM yang solid untuk membantu para dosen yang juga seniman itu dalam menghimpun dan merapikan segala urusan terkait administrasi dan pelaporan.  "Mengumpulkan bukti-bukti karya dan sebagainya, semua harus didata. Karena minimal jabatan yang dihitung dalam akreditasi itu harus lektor, asisten ahli tidak dihitung," terangnya.

    Indah juga mengatakan, bahwa IKJ merupakan gudangnya pakar-pakar seni.  Namun karena satu dan lain hal mereka tidak memungkinkan untuk menempuh studi lanjut.  

    "Jadi nanti juga sekalian akan dipetakan seberapa banyak yang bisa di RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau)-kan. PR Kedua kami adalah menaikkan jenjang fungsional dosen tersebut," terang Indah.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id