comscore

Pendamping Guru Penggerak Ingin Jadi Kepala Sekolah, Ini Syaratnya

Ilham Pratama Putra - 26 Januari 2022 15:54 WIB
Pendamping Guru Penggerak Ingin Jadi Kepala Sekolah, Ini Syaratnya
Ilustrasi. Foto: Branda Antaranews.
Jakarta: Guru yang menjadi pendamping, pelatih, dan asesor program Guru Penggerak tak bisa menjadi calon kepala sekolah. Sebab yang hanya mendapat sertifikat Guru Penggerak adalah peserta dari program itu sendiri.

Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbudristek, Praptono mengatakan bagi para pendamping, pelatih dan asesor Guru Penggerak mesti melalui satu tahapan lagi untuk mendapatkan sertifikat Guru Penggerak. Meskipun, sejatinya mereka yang memberikan pendidikan kepada Guru Penggerak.
"Jadi, mereka para asesor, pendamping dan fasilitator dapat mengikuti Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sehingga kalau lulus bisa mendapatkan sertifikat Guru Penggerak," kata Direktur Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbudristek, Praptono, kepada Medcom.id, Rabu 26 Januari 2022.

Ia mengatakan syarat RPL itu menjadi barang wajib. Menurut Praptono, tak ada jaminan jika pendamping, pelatih hingga asesor memiliki kualitas yang baik dibandingkan Guru Penggerak.

"Kita belum punya skema yang menggaransi bahwa pendamping, asesor dan pengajar praktek kualitasnya lebih baik dari guru penggerak. Yang ada adalah dengan melaksanakan RPL pendidikan calon Guru Penggerak," ujar dia.

Baca: 2023 Tidak Ada Lagi Honorer, P2G Mewanti-wanti Ini

Ia pun menyarankan pendamping, pelatih, hingga asesor Guru Penggerak untuk mendaftar RPL. Ia menyebut proses RPL tidak akan selama Program Guru Penggerak yang memakan waktu 9 bulan.

"Harus mendaftar dan kalau dinyatakan lolos maka mengikuti pendidikan dalam kurun waktu tertentu dengan modul yang sudah kami siapkan. Durasinya pasti lebih singkat dari 9 bulan," tutupnya.

Sebelumnya, Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti soal pelatih, pendamping dan asesor Guru Penggerak yang tak mendapat sertifikat Guru Penggerak. Akibatnya, guru yang menjadi pendamping, pelatih dan asesor dalam Guru Penggerak tak bisa menjadi kepala sekolah.

"Pelatih guru penggerak, kemudian asesor guru penggerak dan pendamping guru penggerak, tiga komponen ini sayangnya tidak menjadi syarat untuk jadi kepala sekolah," kata Koordinator P2G, Satriwaan Salim kepada Medcom.id, Selasa, 25 Januari 2022.

Menurutnya, kebijakan ini tidak adil. "Artinya masa pelatih enggak bisa jadi kepala sekolah, sedangkan yang dilatih bisa jadi kepala sekolah," tutur Satriwan.

(AGA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id