Pengamat Sesalkan Guru Gagap Belajar Daring

    Ilham Pratama Putra - 18 Maret 2020 18:29 WIB
    Pengamat Sesalkan Guru Gagap Belajar Daring
    Kemendikbud membagikan tablet untuk digitalisasi sekolah. Foto: Kemendikbud/Humas
    Jakarta: Standar belajar berbasis internet sejatinya telah diatur dalam Permendikbud nomor 22 tahun 2016.  Dengan begitu, seharusnya saat ini guru telah siap untuk menerapkan belajar daring.

    Pakar Pendidikan Abad 21 dari Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji guru menilai guru telah mengabaikan regulasi yang telah dibangun. Indra mengakui, saat ini banyak sekolah kebingungan menjalankan pembelajaran daring.

    "Ternyata banyak sekali sekolah yang kebingungan dalam menjalankan program pembelajaran dengan metoda dalam jaringan internet," kata Indra di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2020.

    Bahkan Indra menyebut, sebagian besar siswa benar-benar diliburkan tanpa ada proses pembelajaran di rumah. Dia melihat ini sebagai kerugian bagi dunia pendidikan Indonesia.

    "Sudah banyak orang tua yang meminta adanya pemotongan uang sekolah (SPP) bulanan karena mereka merasa tidak mendapatkan layanan pendidikan sama sekali. Apalagi yang orang tuanya masih harus bekerja," ungkapnya.

    Baca juga:  Guru Dinilai Gagal Paham Konsep Belajar Daring

    Sementara sisanya, Indra hanya melihat pembelajaran online serupa ceramah. Meski ini langkah yang baik, namun hal itu masih dinilai tidak efektif.

    "Fokus di pendidikan era 4.0 bukan lagi apa yang dipelajari (what to learn) melainkan bagaimana caranya belajar (how to learn). Di sinilah pentingnya posisi seorang pendidik, karena mereka harus membimbing peserta didik tentang caranya belajar, termasuk belajar dengan memanfaatkan internet," lanjut Indra.

    Jika melihat gejala ini, bahkan Indra menilai program Pendidikan Profesi Guru (PPG) terasa sia-sia. Guru seolah tak menyerap ilmu dari pelatihan yang dijalankan.

    "Program-program pelatihan guru yang memakan uang rakyat dengan jumlah besar itu ternyata masih sebatas 'event' saja, tidak pernah terukur, dan dievaluasi learning output atau hasil belajarnya," tegasnya.

    Hal ini tentunya sangat berbahaya dalam menyukseskan program pembangunan Sumber Daya Manusia unggul. Ketika pendidik sabagai ujung tombak tak bisa sesuai harapan.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id