comscore

Hasil Evaluasi, PTM 100 Persen di Surabaya Sepakat Dilanjutkan

Antara - 19 Januari 2022 21:17 WIB
Hasil Evaluasi, PTM 100 Persen di Surabaya Sepakat Dilanjutkan
Ilustrasi pembelajaran tatap muka. Foto: Branda Antaranews
Surabaya: Pemerintah Kota Surabaya sepakat melanjutkan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMP. Kebijakan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi dengan pakar maupun lembaga terkait lainnya.

"Kami ingin orang tua merasa aman dan nyaman ketika menitipkan anak-anak di sekolah," kata Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Yusuf Masruh, Rabu, 19 Januari 2022.

 



Pemkot melakukan evaluasi PTM bersama Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), Windhu Purnomo, Pembina Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Jawa Timur Estiningtyas Nugraheni, dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim Dominicus Husada.

Yusuf mengatakan PTM 100 persen tetap berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. Saat ini, kata dia, belum ada laporan warga sekolah yang terpapar covid-19 di lingkungan sekolah.

Baca: Vaksinasi Anak Lampaui Target, Boyolali Masih Enggan PTM 100%

Meskipun demikian, pihaknya secara berkala akan melakukan evaluasi bersama pakar epidemiologi, pakar kesehatan masyarakat, IDAI, serta guru dan tenaga kependidikan (GTK). "Ini ikhtiar kami bersama untuk memberi layanan terbaik bagi anak-anak di Kota Surabaya," kata Yusuf.

Bidang Pengembangan, Penelitian dan Pendidikan IDAI Jatim Dominicus Husada mengatakan kebijakan PTM ini tetap dapat dijalankan di Kota Surabaya dengan kehati-hatian. Ia mengaku, belum melihat alasan yang cukup untuk memberi masukan agar PTM dihentikan. "Kalau kasusnya melonjak, baru kita lakukan evaluasi kembali," kata Dominicus.

Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo menjelaskan sejauh ini Indonesia tampak bagus dalam menghadapi covid-19 varian Omicron. Sebab, menurut dia, di negara-negara lain puncak kasus terjadi pada 40 hari sejak kasus pertama ditemukan. Hal itu terjadi di negara Afrika, Inggris, Amerika Serikat, dan lain-lain.

"Sedangkan di Indonesia, kasus pertama ditemukan pada pertengahan Desember. Seharusnya sekarang ini prediksi puncaknya. Tapi sekarang masih di bawah ambang batas bahaya. Jadi, kita tidak usah khawatir dengan Omicron, karena ini sudah seperti influenza biasa," ujar Windhu.

Baca: 68% Sekolah Sudah Bisa Gelar PTM 100 Persen

Pembina Persakmi Jatim Estiningtyas Nugraheni menyarankan kepada Dispendik Surabaya untuk mengusulkan revitalisasi Kampung Tangguh dan Kampung Wani Jogo Suroboyo sesuai dengan kondisi terkini dalam mendukung PTM. Hal ini dapat membantu mensterilkan lingkungan sekolah dari para pedagang yang dilarang berjualan selama PTM berlangsung.

Selain itu, lanjut dia, setiap lembaga pendidikan harus memiliki penanggung jawab dan standar yang jelas untuk pelaksanaan PTM 100 persen.

"Yang paling penting menerapkan 3M dan tidak ada kerumunan. Kemudian ada Satgas COVID-19 dari unsur sekolah, RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan dimana lembaga pendidikan itu ada. Ini penting untuk membantu sterilisasi lingkungan sekolah," kata Estiningtyas.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Nanik Sukristina mengatakan pihaknya terus memonitor pelaksanaan PTM di Kota Surabaya. Bahkan, ia memastikan timnya selalu melakukan monitoring tentang protokol kesehatan yang dijalankan di sekolah-sekolah yang melaksanakan PTM.

(AGA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id