Tugas Menumpuk, Belajar Daring Bikin 'Sesak Napas'

    Daviq Umar Al Faruq - 11 Mei 2020 19:40 WIB
    Tugas Menumpuk, Belajar Daring Bikin 'Sesak Napas'
    Ilustrasi. Medcom.id
    Malang:  Pandemi virus korona (covid-19) menuntut pembelajaran turut terdisrupsi, dari semula di ruang-ruang kelas berubah ke digital melalui berbagai macam platform. Sayangnya, tuntutan ini belum sepenuhnya diiringi oleh daya dukung yang memadai, baik dari aspek infrastruktur maupun SDM.

    Dampaknya, tak hanya pembelajaran yang kurang optimal, guru pun kerap “disenggol” bahkan dipertanyakan profesionalitasnya.  Salah satunya dipicu karena dalam praktik pembelajaran daring di lapangan, justru hanya berubah menjadi ajang memberi tugas secara daring.

    Nah, karena banyak tugas maka ‘sesak napas’. Sehingga, perlu ‘napas buatan’ supaya ada kehidupan dalam kegiatan pembelajaran kita,” kata Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (FKIP UMM), Suparto, Senin, 11 Mei 2020.

    Menariknya, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris ini mengatakan, bahwa pandemi covid-19 justru membuat pembelajaran mencapai titik kodratnya. Sebab, pembelajaran di tahun 2020 memang sudah seharusnya didominasi daring.

    Dengan kata lain, covid-19 telah berhasil membersihkan residu-residu pembelajaran konvensional.  Dia mengungkapkan, ada tiga saluran 'napas buatan' pembelajaran daring yaitu presence, awareness, dan empathy.

    Baca juga:  Hanya Sekolah di 'Zona Hijau' Covid-19 yang Dibuka Juni

    Keberadaan guru tetap penting dalam pembelajaran daring. Tetapi, guru berfungsi sebagai tour leader pembelajaran, bukan source of knowledge. Guru dituntut untuk tetap bisa menciptakan hubungan antarindividu dan mengondisikan siswa berbagi perspektif. 

    “Dalam aplikasi pembelajaran daring di masa covid ini, saya menawarkan salah satu model yaitu Rigor Framework. Pada intinya, kita tetap harus mengasah dan mengoptimalkan keterampilan berpikir siswa sampai pada tahap berpikir kompleks untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi,” tutupnya.

    Sementara itu, Dosen Zhejiang University, Tiongkok, Hery Yanto The mengatakan, tantangan pendidikan profesional berkisar di ranah adaptive and technology integration, blended learning, artifivial intelegence, flipped classroom, individualized learning, MOOC, online lab, dan open education resources. 

    Transformasi dan lompatan inilah yang mau tidak mau harus dihadapi guru-guru dewasa ini. Namun, dalam pandangan dosen Zhejiang University ini, Indonesia dapat dikatakan dapat beradaptasi dengan cepat.

    “Indonesia yang saya rasakan dapat mengadopsi hal ini dengan cepat. Selama pandemi ini webinar begitu banyak, pembelajaran daring meskipun banyak kesulitan tetap berjalan penuh semangat. Jadi, saya yakin kita bisa melakukan lompatan yang cepat untuk mengadopsi segala sesuatu yang baru, yang kita sudah cukup tertinggal sebenarnya,” katanya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id