Sejarawan Unand: Kebenaran Film G30S/PKI Semakin Diragukan

    Antara - 30 September 2020 08:16 WIB
    Sejarawan Unand: Kebenaran Film G30S/PKI Semakin Diragukan
    Ilustrasi. Sejumlah warga menonton film penumpasan pengkhianatan G30S/PKI di markas Kodim 1304 Gorontalo. Antara/Adiwinata Solihin.
    Jakarta: Sejarawan Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatra Barat Prof Gusti Asnan menilai pemutaran film Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) belum mampu menumbuhkan kesadaran anak bangsa bahwa PKI adalah dalang dari peristiwa tersebut. Banyak orang justru semakin meragukan kebenaran film tersebut.

    "Karena sudah sekian puluh tahun film itu diputar dalam tanda kutip ternyata ada juga keraguan dan bahkan makin banyak keraguan orang akan kebenaran apa yang disampaikan dalam film tersebut," kata Gusti saat dihubungi, Selasa, 29 September 2020.

    Guru Besar Sejarah Unand tersebut memandang perlu sebuah kajian atau penelitian sejauh mana efektivitas dari pemutaran film bagi penumbuhan kesadaran anak bangsa bahwa PKI merupakan dalang di balik peristiwa itu. Munculnya keraguan-keraguan di tengah masyarakat terkait kesahihan film G30S/PKI tersebut dikarenakan lahirnya pemikiran-pemikiran maupun temuan baru yang direkonstruksi tentang G30S/PKI.

    Baca: Peneliti LIPI: Buku Jadi Penerang Utama Sejarah G30S/PKI

    Gusti Asnan juga menilai tidak ada persoalan apabila materi tentang G30S/PKI dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Apalagi, sejak tahun 2000-an terjadi perubahan yang cukup drastis terkait informasi tentang G30S/PKI dalam buku-buku ajar.

    Dulu, kata dia, dalam buku ajar hanya ada satu perspektif tentang peristiwa pembantaian tujuh jenderal TNI tersebut dilakukan oleh orang-orang PKI. Mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas memiliki referensi yang sama.

    Namun, kata dia, sejak tahun 2000-an dalam buku ajar dikatakan bahwa dalang di balik peristiwa itu bisa saja Soeharto, Central Intellegince Agency (CIA) dan PKI. "Jadi buku-buku ajar belakangan ini sudah tiga kemungkinan aktor di balik peristiwa itu," ungkapnya.

    Secara umum, ia menilai hal itu tidak masalah dengan catatan pengayaan sebuah ilmu pengetahuan. Sebab, idealnya sebuah pendidikan ialah mengajarkan anak didik menjadi kritis untuk sebuah pengetahuan.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id