KPAI: Alasan Pelajar Ikut Demo karena Bosan Tak Sekolah

    Ilham Pratama Putra - 14 Oktober 2020 07:08 WIB
    KPAI: Alasan Pelajar Ikut Demo karena Bosan Tak Sekolah
    Ilustrasi. Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
    Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) ikut turun memantau aksi demo tolak Omnibus Law di sekitaran Monumen Nasional (Monas) pada Selasa, 13 Oktober 2020. Di lokasi demo, KPAI menemukan banyak anak usia di bawah 17 tahun ikut aksi unjuk rasa.

    Pada aksi kemarin, pihak KPAI menyayangkan anak-anak masih dilibatkan dalam aksi. Komisioner KPAI di Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra menyebutkan jika anak-anak tersebut diduga kuat menerima imbalan saat turun aksi.

    "Saya tertarik, ada anak anak usia SD yang nampak di jangkauan mata saya, lewat dan memegang lembaran lembaran uang 5.000 ribu. Saya berseloroh di depan mereka 'wah duitnya bagus nih dan rokoknya' mereka menjawab itu ada Abang-abang yang ngasih," kata Jasra dalam keteranganya, Selasa, 13 Oktober 2020.

    Baca: Mahasiswa yang Ikut Demo Disarankan Karantina Mandiri

    Kemudian Jasra melihat anak-anak tersebut menggunakan uang pemberian itu untuk membeli rokok dan minuman dingin. Jasra mencoba mengulik alasan mereka ikut aksi.

    Sebagian besar dari mereka, kata Jasra tidak mengerti apa yang tengah diaspirasikan. Yang jelas, aksi mereka ini didorong oleh rasa bosan di rumah.

    Beberapa anak yang dia temui bahkan mengaku bosan di rumah karena sekolah belum dibuka untuk pembelajaran tatap muka. Kebanyakan guru hanya memberi tugas saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

    "Kata mereka meski PJJ, tapi lama-lama hanya tugas yang diberikan guru. Sehingga mereka libur panjang dan sering nongkrong. Teman sebelahnya berseloroh sekarang lebih banyak tawuran," ungkap Jasra.

    Cerita mengalir, hingga Jasra mendapat kisah anak-anak ini datang dari tempat yang cukup jauh. Ada yang berasal dari Cengkareng hingga Tanjung Priuk.

    Dari temuannya, Jasra hanya menemukan satu orang anak yang membahas isu Omnibus Law. Anak yang mengaku sebagai siswa kelas 2 SMP ini khawatir jika nanti dia bekerja hanya dibayar dengan satuan waktu per jam.

    "Dia melanjutkan tidak tega melihat orang tua tidak istirahat dalam bekerja, kecuali Hari Minggu dan hari biasa bekerja cuma boleh istirahat satu jam," pungkas Jasra.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id