Profesor di UB Teliti Kebutuhan Air di Ibu Kota Baru

    Daviq Umar Al Faruq - 13 November 2019 14:56 WIB
    Profesor di UB Teliti Kebutuhan Air di Ibu Kota Baru
    Pengukuhan guru besar di Universitas Brawijaya. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
    Malang: Universitas Brawijaya (UB) baru saja mengukuhkan dua guru besar baru di Gedung Widyaloka UB, Rabu 13 November 2019. Salah satunya, Prof Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT sebagai Profesor dalam Bidang Manajemen dan Rekayasa Sumber Daya Air pada Fakultas Teknik (FT).

    Pitojo merupakan Profesor ke-14 di FT, dan ke-252 di UB. Paper yang diangkatnya adalah tentang daya dukung air baku di calon Ibu Kota Negara baru di Kalimantan Timur.  Dalam pemaparannya, Pitojo mengatakan, rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur (Kaltim) merupakan langkah yang besar dan strategis.

    Langkah ini diakuinya bakal menjadi catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia.  "Rencana ini dilakukan untuk tujuan fundamental dan positif terhadap aspek pemerataan dan percepatan kemajuan pembangunan negara kita," katanya.

    Pitojo menjelaskan, rencana pemindahan ibu kota akan melibatkan pemindahan penduduk sebanyak 800.000 aparatur sipil negara (ASN) yang berpindah dari Jakarta ke Kaltim. Lalu penyiapan area lokasi induk seluas 40.000 hektare dengan luas lahan pengembangan 180.000 hektare, pembangunan sarana dan prasarana dengan kebutuhan biaya yang cukup besar.

    Oleh karena itu, kesuksesan dan keberlangsungan terhadap rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur tidak bisa dilepaskan salah satunya dengan daya dukung sumber daya air yang mencukupi secara kuantitas dan kualitas sebagai fungsi dari waktu.

    "Karena air baku merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Hal ini berimplikasi pada upaya layanan air baku yang  memenuhi kebutuhan dari sisi ketersediaan secara kuantitas dan kualitas, kontinuitas dan keterjangkauan," bebernya.

    Pitojo menambahkan air permukaan menjadi pilihan utama dalam pemenuhan kebutuhan air baku untuk menopang semua rencana kegiatan pusat pemerintahan dengan pendukungnya. Seperti permukiman, kawasan pendidikan, pusat penelitian dan perdagangan-jasa.

    Manajemen dan rekayasa sumber daya air yang komprehensif diharapkan mampu menjawab tantangan ke depan, yaitu ketersediaan air baku yang relatif tetap dan bahkan terancam menurun kualitasnya, akan tetapi berbanding terbalik dengan laju permintaan yang terus meningkat.

    "Perlu keseimbangan neraca air, antara ketersediaan dan kebutuhan air baku kawasan rencana ibu kota negara di Kalimantan Timur," ujarnya.

    Dijelaskan Pitojo, penyediaan air baku dalam jumlah besar bisa dilakukan dengan upaya menampung dengan teknik membangun waduk atau bendungan. Pembangunan bendungan membutuhkan waktu dan proses, mulai dari kajian kelayakan, perencanaan dan pembangunan.

    "Pemerintah perlu untuk menyusun timeline dalam pengelolaan air bersih di Kalimantan Timur, mulai dari program-program kegiatan, waktu pelaksanaan pembangunan, tahapan distribusi, pilihan teknologi dan lainnya," tegasnya.

    Menurut hitungan Pitojo, ketersediaan air baku eksisting saat ini yang disuplai dari Bendungan Manggar (1200 lt/dt), Bendungan Teritip (260 lt/dt), air baku Loa Kulu (100 lt/dt) dan intake Kalhol (Sungai Mahakam) dengan kapasitas 1000 l/dt tetapi belum operasional. 

    Total ketersediaan air baku eksisting saat ini sebesar 2,56m3/det. Berdasarkan analisa neraca air, dengan ketersediaan eksisting saat ini sebesar 2,56m3/det dan hasil perhitungan kebutuhan air akibat peningkatan penduduk sampai dengan lima juta orang di lokasi rencana ibu kota sebesar 10,94 m3/det.

    "Maka terdapat defisit kekurangan ketersediaan air sebesar 8,38 m3/det, sebuah nilai debit yang cukup signifikan besar yang harus dipenuhi," jelasnya.

    Sehingga, untuk mengatasi defisit sumber air baku di lokasi rencana ibu kota negara dapat dilakukan dengan upaya optimasi peran bendungan yang ada.  Selain itu juga membangun bendungan dan infrastruktur air yang baru.

    Analisis kelayakan teknik dan ekonomi menjadi dasar pertimbangan dengan dukungan data topografi, geologi dan hidrologi serta data demografi yang ada di Kalimantan Timur.  Dari analisa data yang ada di lapangan, teridentifikasi lokasi ketersediaan air baku yang potensial untuk dikelola antara lain, air baku Embung Aji Raden 150 lt/dt; Intake Loa Kulu (Sungai Mahakam) 6200 lt/dt; air baku Bendungan Samboja 200 lt/dt ( dengan volume tampungan 5 jt m3); air baku Bendungan Lambakan 5000 lt/dt (volume tampungan 633 jt m3); dan air baku Bendungan Sepaku Semoi 1600 lt/dt (volume tampungan 11 jt m3). 

    Prediksi jika dalam lima tahun ke depan lima sumber air baku tersebut berhasil disiapkan, maka berdasarkan optimasi tersebut akan diperoleh potensi tambahan ketersediaan air baku sebesar 13,15 m3/detik. 

    Ada perubahan neraca air dengan adanya penambahan lima lokasi dengan rekayasa pembangunan infrastruktur air berupa embung, intake dan bendungan total ketersediaan menjadi 15,71 m3/detik, sedangkan kebutuhan untuk lima juta orang di lokasi rencana ibu kota sebesar 10,94 m3/det, maka terdapat surplus sebesar 4,77 m3/det. 

    Surplus ketersediaan air sebesar 4,77 m3/det setara dengan alokasi untuk 2,17 juta penduduk, artinya bila dalam satu tahun pertambahan jumlah penduduk di rencana lokasi ibu kota naik sebesar 2 persen, maka surplus ketersediaan air hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan air 7,17 juta penduduk atau untuk jangka waktu sekitar 45-50 tahun ke depan (tahun 2070-2075). 

    "Harus dilakukan upaya efisiensi dan optimalisasi sistem, pengendalian jumlah penduduk dan menemukan lokasi potensi-potensi sumber air baku yang belum teridentifikasi," terangnya.

    Selain memanfaatkan teknologi rancang bangun infrasruktur bendungan dan waduk untuk mengusahakan penyediaan kebutuhan air baku di lokasi rencana ibu kota, maka penerapan pengembangan ilmu manajemen dan rekayasa sumber daya air mutlak dilakukan untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang optimal dan sesuai dengan kondisi data yang sesuai di lapangan.

    Meliputi pendekatan model deterministik dan stokastik, pendekatan model optimasi linier programming dan dinamic programming, simulasi operasi waduk serta model statistik dan matematik peramalan hujan-debit atau debit-debit.

    Upaya mengantisipasi dampak negatif yang timbul akibat rencana pemindahan ibu kota Negara dilakukan dengan menyiapkan kota yang ramah terhadap tata kelola sumber daya airnya. Menjadikan ibu kota negara berkonsep forest city diyakini akan menekan perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi lahan terbangun sebagai sumber dampak negatif yang timbul. 

    Forest city merupakan upaya untuk mempertahankan 50 persen luas hutan. Pemanfaatan lahan untuk area terbangun dengan mengadopsi elemen kota hijau di lokasi rencana ibu kota negara baru di Kalimantan Timur diprediksi mampu menjawab tantangan dalam menjaga kelangsungan dan ketersediaan kebutuhan air baku, antara lain green planning dan green design, green community, green open space, green building dan green water.

    Selain Pitojo, UB juga mengukuhkan Prof Amin Setyo Leksono SSi MSi PhD sebagai Profesor dalam Bidang Ilmu Entomologi dan Ekologi pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Ia merupakan Profesor ke-20 di FMIPA, dan ke-251 di UB. 




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id