Dirjen: Masuk SMK Jangan Jadi Pilihan Kedua

    Antara - 22 Juni 2020 08:08 WIB
    Dirjen: Masuk SMK Jangan Jadi Pilihan Kedua
    Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto.
    Jakarta:  Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Wikan Sakarinto mengingatkan para siswa agar tidak menjadikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai pilihan kedua.

    "Agar output-nya baik, maka inputnya pun harus baik. Siswa baru SMK harus memiliki passion dengan pendidikan vokasi, masuk SMK jangan dijadikan pilihan kedua," ujar Wikan dalam telekonferensi di Jakarta, Minggu, 21 Juni 2020.

    Siswa SMK hendaknya harus mengetahui visinya seperti apa. Tidak tepat jika masuk SMK hanya untuk mendapat ijazah dan kerja. Sebaiknya masuk SMK untuk mendapatkan kompetensi.

    Baik ijazah maupun kompetensi memiliki perbedaan. Ijazah hanya menunjukkan siswa sudah belajar apa, sedangkan kompetensi dan ijazah adalah siswa sudah bisa apa atau kemampuan apa yang dimiliki oleh siswa SMK.

    "Perpaduan antara kompetensi baik itu kemampuan teknis (hard skills) dan kemampuan nonteknis (soft skills) serta sikap jujur, memiliki moral dan berintegritas merupakan syarat SDM unggul dan kompeten," jelas dia.

    Wikan menambahkan, ke depan kemampuan nonteknis akan semakin berpengaruh. Hal itu dikarenakan kemampuan teknis terus mengalami perubahan akibat perkembangan teknologi.

    Kemendikbud mencanangkan "pernikahan massal" antara pendidikan vokasi dan industri. "Pernikahan massal" merupakan penguatan dari link and match antara pendidikan vokasi dan industri.

    Baca juga:  Kemendikbud Rancang Program SMK Empat Tahun

    Kerja sama yang dilakukan tidak hanya sekadar penandatanganan di atas kertas atau nota kesepahaman (MoU), melainkan harus intensif dan erat. Mulai dari pembuatan kurikulum yang dirancang bersama, tenaga pengajar dari industri, program magang yang dirancang sejak awal, komitmen bersama, hingga pelatihan dan peningkatan kompetensi guru menjadi sesuatu yang wajib.

    "Intinya adalah alasan lulusan SMK atau vokasi itu harus kompeten. Kompetensi itu, Aku bisa apa dan Aku mampu apa. Bukan hanya ijazah saja, tapi juga harus memiliki kompetensi," jelas dia lagi.

    Jika menganalogikan proses pendidikan vokasi, lanjut dia, maka tujuannya menghasilkan output atau lulusan yang memiliki kompetensi. Sehingga outcome atau hasil akhirnya membuat kepuasan dunia industri dengan kompetensi lulusan SMK.

    "Misal industri itu inginnya nasi pecel, tapi inginnya nasi pecel yang istimewa, yang kinerjanya baik. Untuk itu perlu kolaborasi yang baik, mulai dari resep dibikin bersama, dimasak bersama, dicobain bersama, label bersama, hingga dinikmati bersama," terang Mantan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

    Untuk SMK, Kemendikbud akan membuat inovasi dengan membuat program SMK Fast Track yang lama belajarnya empat dan 4,5 tahun. Program itu merupakan kolaborasi antara SMK, perguruan tinggi dan dunia industri.

    Untuk program 4,5 tahun misalnya, akan disetarakan dengan diploma dua, yakni memiliki lama belajar sembilan semester.  Terdiri dari semester satu hingga lima di SMK, semester enam itu praktik kerja industri. Kemudian semester selanjutnya di perguruan tinggi, kemudian semester delapan dan sembilan magang di industri baik di dalam maupun luar negeri.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id