Tradisi Menghafal Dituding Sebabkan Skor PISA Jeblok

    Intan Yunelia - 14 Desember 2019 16:32 WIB
    Tradisi Menghafal Dituding Sebabkan Skor PISA Jeblok
    Ilustrasi: Medcom.id
    Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menduga tradisi menghafal menjadi penyebab skor Indonesia di Program for International Student Assessment (PISA) 2018 melorot. Kebiasaan menghafal menjadi dampak pelaksanaan ujian nasional (UN). 

    "Karena anak-anak terbiasa di sekolah diajarkan dan tidak diajak untuk menganalisis tapi cenderung menghafal dan mereproduksi pengetahuan dibanding pengetahuan itu harus di-generated," kata Kepala Humas Kemendikbud, Ade Erlangga Masdiana, dalam diskusi di Hotel Ibis Tamarin, Jalan KH Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 14 Desember 2019.

    Menurut dia, kemerdekaan pendidikan anak-anak dengan sistem yang ada saat ini terbelenggu. UN hanya berorientasi pada nilai sesaat tanpa ada dampak bagi anak di kemudian hari.

    "Misalnya anak-anak dipaksa untuk mencapai skor tertentu. Akhirnya menjamur lembaga-lembaga belajar dan siapa yang lebih untung bukan siswa, tetapi berbagai macam pihak. Orang tua juga stres, anaknya stres, guru juga ditekan untuk anak bisa mendapatkan skor bagus dan berprestasi," ujar Erlangga.

    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim pun mengganti UN menjadi asesmen kompetensi minimum. Kebijakan ini mendapat masukan dari berbagai pihak, mulai dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), pemangku kepentingan pendidikan, pengamat dan lainnya.

    "Ini menjadi sangat penting karena Mas Menteri ingin menciptakan suasana belajar di sekolah yang baik yaitu treknya menciptakan sebuah suasana yang membahagiakan untuk guru, peserta didik, orang tua, dan semua," tutur dia.

    PISA 2018 mengujikan tiga kompetensi dasar siswa, yakni membaca, matematika, dan sains. 
    Kemampuan siswa Indonesia di tiga kompetensi tersebut menduduki posisi 72 dari 77 negara Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Skor ini turun dari periode penilaian sebelumnya, yakni peringkat 62 dari 70 negara di 2015.
     
    Berdasar nilai rerata, penurunan nilai PISA Indonesia terjadi di seluruh kompetensi yang diujikan. Penurunan terlihat pada kompetensi membaca, dari 397 poin pada 2015 menjadi 371 poin di 2018, sedangkan rata-rata OECD 487.

    Dalam kompetensi matematika, kemampuan siswa Indonesia menurun dari 386 poin di 2015 menjadi 379 poin di 2018 dengan rata-rata OECD 489. Skor di kompetensi sains juga turun dari 403 di 2015 menjadi 396 poin di 2018, di bawah rerata 489.
     
    Peringkat Indonesia di antara lima negara di Asia Tenggara yang masuk OECD juga hanya unggul dari Filipina yang berada di posisi buncit dari 77 negara. Sementara itu, Thailand di peringkat ke-66, Brunei Darussalam ke-59, Malaysia ke-56, dan Singapura di peringkat ke-2.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id