comscore

IPB University Gandeng Jerman Kembangkan Aplikasi untuk Atasi Kepunahan Badak

Citra Larasati - 20 Mei 2022 15:27 WIB
IPB University Gandeng Jerman Kembangkan Aplikasi untuk Atasi Kepunahan Badak
Rektor IPB, Arif Satria usai penandatanganan MoU dengan Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research Foto: Dok. IPB
Jakarta:  Institut Pertanian Bogor (IPB University) menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang "Akselerasi Pengembangan Sains dan Pendidikan Konservasi Spesies Terancam Punah dengan Aplikasi Teknologi Reproduksi Berbantu (ART) dan Bio-bank”.  Penandatanganan ini dilakukan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB University), Arif Satria saat berkunjung ke “Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (Leibniz-IZW)”, Berlin, Jerman.

MOU disaksikan oleh Desy Satya Chandradewi sebagai perwakilan Direktorat Jenderal Konservasi Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Ardi Marwan, Radbruch dari Leibniz Association Germany serta Jörg Junhold sebagai Direktur Kebun Binatang Leipzig dan President Association Zoological Gardens, Jerman.
MOU ini menguraikan strategi kolaboratif baru untuk memajukan solusi ilmiah dan pendidikan di masa depan untuk keberlanjutan lokal dan global dan tantangan konservasi keanekaragaman hayati. Dalam kunjungan ke Berlin, Arif didampingi Dekan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB, Deni Noviana dan tim peneliti ART dan Biobank IPB yaitu Bambang Purwantara, Arief Budiono, dan M Agil.

“Ini adalah aliansi strategis kami dengan Leibniz-IZW yang punya pengalaman dalam konservasi satwa liar, khususnya badak,” kata Arif Satria, dalam siaran persnya, Jumat, 20 Mei 2022.

MoU ini, kata Arif, akan memberi kesempatan ITB untuk menjalin kerja sama jangka panjang dalam memperluas pengetahuan dan pemahaman ilmiah tentang pengobatan satwa liar, teknologi reproduksi berbantuan, dan strategi bio-bank untuk menyelamatkan spesies Indonesia yang terancam punah.

Saat ini contohnya, badak Sumatra statusnya sangat kritis akan kepunahan. Penelitian yang mendalam menunjukkan bahwa populasi badak sumatra di alam liar terus menurun drastis.

Dari tahun 1984 hingga 2015, sekitar 90 persen populasi badak dunia menurun drastis dari 800 ekor pada tahun 1984 menjadi kurang dari 75 ekor pada tahun 2015. Saat ini populasi badak sumatra hanya ditemukan di Indonesia dan populasi badak sumatera saat ini diperkirakan hanya kurang dari 50 ekor badak termasuk badak yang ada di Suaka Badak Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung dan SRS Kelian, Kutai Barat di Kalimantan Timur.

Ancaman kepunahan badak Sumatra tidak hanya dipicu oleh ancaman eksternal yang teridentifikasi.  Seperti degradasi habitat maupun potensi perburuan, akan tetapi juga ancaman internal berupa kondisi kesehatan genetik dan reproduksi badak Sumatra yang sangat mengkhawatirkan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada badak Sumatra di penangkaran sejak awal 1980-an sampai sekarang, lebih dari 70 persen badak di penangkaran mengalami gangguan abnormalitas organ reproduksi (kista dan tumor) dan sulit untuk bunting

Perkembangbiakan badak Sumatra di eks-situ sangat lambat hanya lima anak badak diperoleh dalam 40 tahun dan populasi in-situ punah di TN Kerinci Seblat dan sulit ditemukan lagi di BBTN BBS dan TN Way Kambas.  Lambatnya laju reproduksi badak Sumatra mengakibatkan hewan tersebut mengalami kepunahan apabila tidak dilakukan tindakan yang tepat untuk memulihkan sumberdaya genetik baik di alam maupun di penangkaran.

Mengingat badak di alam liar sulit untuk diselamatkan, dan badak di penangkaran sangat lambat untuk berkembang biak, maka pemulihan sumber daya genetik (gamet, sel fibroblast dan embrio) menjadi langkah strategis dan penting untuk ditempuh. Tujunnya guna menyelamatkan jenis yang berada di ambang kepunahan.

Salah satu cara melindungi dan mengamankan material genetik satwa liar adalah melalui aplikasi Teknologi Reproduksi Berbantu (atau Assisted Reproductive Technology, atau ART) dan Bio-bank.  “Dalam proyek sains konservasi bersama, pertama kami akan berkontribusi untuk menyelamatkan kepunahan badak sumatera dengan menggunakan strategi ilmiah teknologi tinggi,” kata Thomas Hildebrandt, Kepala Departemen Manajemen Reproduksi di Leibniz-IZW.

Ia meyakini, dengan kekuatan bersama, pihaknya akan mulai mentransfer hasil ilmiah yang dimiliki dari proyek BioRescue.  "Telah berhasil menyelamatkan sumberdaya Genetik Badak Putih Utara dari kepunahan dapat diaplikasikan dan berhasil pada badak Sumatra.”

Kerja sama ini akan mendukung berdirinya “Pusat Teknologi Reproduksi Berbantu dan Bio-Bank” di IPB University. “Kolaborasi ini akan mendukung pengembangan system Sister Laboratorium antara IPB University dan IZW, jejaring dan peningkatan kapasitas dan kemampuan staf untuk meningkatkan fungsi laboratorium di Indonesia dalam bidang teknik reproduksi berbantu (ART) dan aplikasi bio-bank,” kata Agil, koordinator tim ART dan biobank di IPB.

Melalui kerja sama ini, program konservasi jangka panjang satwa terancam punah di Indonesia akan bermanfaat untuk konservasi spesies. Aksi pertama dan penting dari kerja sama ini akan mulai menerapkan ART dan bio-banking untuk menyelamatkan badak sumatra dari kepunahan.

Arif Havas Oegroseno, Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman, menyebutkan MoU ini akan memperkuat kerja sama bilateral antara Jerman dan Indonesia. “Kerja sama ini akan mendukung program Pemerintah Indonesia untuk Konservasi Satwa Liar dalam menyelamatkan dan melindungi satwa liar Indonesia serta sumber daya genetik spesies Indonesia yang terancam punah," ungkapnya.

Baca juga:  Dokter IPB Ungkap Hal-hal yang Mesti Diketahui Soal PMK: dari Penyebaran Hingga Pencegahan Virus

Dengan kerja sama ini, juga dapat memperkuat pembentukan “Pusat Teknologi Reproduksi Berbantu (ART) dan Bio-bank untuk badak Sumatra dan Satwa liar yang terancam punah di IPB.  Selain itu, aplikasi teknologi tersebut dapat menyelamatkan dan menyimpan sumberdaya genetik dalam bentuk gamet (sel telur dan sperma), sel fibroblas, sel punca dan produksi embrio untuk menghasilkan individu baru badak Sumatera dan satwa liar terancam punah lainnya.

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id