Satgas Covid-19 UNS: Indonesia Tengah Dilanda Gelombang Ketiga Covid-19

    Citra Larasati - 22 Juli 2021 19:47 WIB
    Satgas Covid-19 UNS: Indonesia Tengah Dilanda Gelombang Ketiga Covid-19
    Ilustrasi. Medcom.id



    Jakarta:  Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, sebenarnya Indonesia tengah dilanda gelombang ketiga covid-19.

    Hal itu dapat dilihat dari pertambahan kasus covid-19 yang melonjak drastis, RS yang kewalahan menerima pasien positif covid-19, dan banyak tenaga kesehatan (nakes) yang terpapar SARS-CoV-2, hingga ada yang meninggal.

     



    “Kita pernah menjadi yang tertinggi dan terbanyak di Asia, tapi saat ini kita sedang turun. Ini posisi menggambarkan kita sebenarnya ada di gelombang ketiga, hanya gelombang pertama seolah-olah tidak merasakan,” ujar Tonang dalam Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNS, Rabu malam, 21 Juli 2021.

    Berdasar realita di lapangan, Tonang juga menyampaikan, saat ini Instalasi Gawat Darurat (IGD) di sejumlah RS mengalami pertambahan antrean yang banyak. Contohnya saja di RS UNS, antrean di IGD bisa mencapai 20-25 orang.

    “Di RSUD Moewardi bisa sampai 60 orang. Ada yang sampai di tenda, ada yang di selasar. Pasien menunggu untuk kamar. Itu kondisi hari ini yang tidak kita sangka,” ungkap dr. Tonang.

    Lebih lanjut, ia mengatakan apabila pemerintah jadi untuk melonggarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang perlu diperhatikan adalah potensi terjadinya lonjakan kasus Covid-19.  Seperti yang dialami oleh Inggris, Malaysia, India, termasuk Singapura yang dinilai sebagai negara paling berhasil menanggulangi pandemi covid-19.

    Tonang dalam paparannya mencontohkan, dengan merebaknya covid-19 varian Delta yang berasal dari India, membuat pertambahan kasus covid-19 di Inggris dan Malaysia melonjak drastis, bahkan lebih tinggi daripada Indonesia.

    Baca juga:  UNS Prioritaskan Vaksinasi untuk Mahasiswa Asal Solo Raya

    Namun, yang perlu diperhatikan adalah angka kematian pasien akibat covid-19 di Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia dan Inggris.

    “Sebenarnya kita belum setinggi Malaysia dan UK tapi dalam hal kematian harus kita akui hampir mengalahkan Malaysia, walaupun kasusnya Malaysia lebih berlipat dari kita,” jelasnya.

    Belajar dari negara lain

    Untuk itu, Tonang meminta agar pemerintah Indonesia banyak belajar dari negara-negara di dunia dalam pengambilan keputusan untuk pembatasan aktivitas masyarakat dan vaksinasi covid-19.  Ia mendorong Kementerian Kesehatan untuk menggencarkan tes covid-19 hingga 15 kali lipat dari standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

    Hal ini pernah dilakukan India saat covid-19 varian Delta pertama kali merebak di negara tersebut. "Saat ini kita masih tinggi. Kalau antigen saja kita 29,1 persen. Kalau PCR 38,6 persen. Kemarin sempat 47,6 persen jadi belum stabil posisi kita,” tutur Tonang.

    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id