KPAI: Ancaman 'DO' Pelajar Pedemo Tindakan Semena-mena

    Ilham Pratama Putra - 15 Oktober 2020 11:59 WIB
    KPAI: Ancaman 'DO' Pelajar Pedemo Tindakan Semena-mena
    Pelajar hendak ikut demo ke Jakarta diamankan Polres Metro Tangerang Kota. Foto: Dok Medcom.id
    Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendapat laporan adanya ancaman dinas pendidikan kepada pelajar yang ikut dalam demo menolak Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Pelajar diancam 'drop out (DO)', hingga mutasi ke pendidikan paket C dan dipindahkan ke sekolah pinggir kota.

    Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyampaikan hal itu tidak tepat dilakukan. Narasi tersebut justru membuat pelajar terbatasi hak pendidikannya.

    "Masa depan anak-anak ini masih panjang, jadi narasi-narasi seperti itu harusnya tidak ada dan kurang tepat, menghukum anak tidak seperti itu menurut saya," ujar Retno dalam Siaran Kompas TV bertajuk 'Maraknya Pelajar Ikut Demonstrasi, Fenomena Apa?', Kamis, 15 Oktober 2020.

    Menurut dia, tidak semua pelajar yang terlibat dalam demo sebagai penyebab kerusuhan. Pihak kepolisian pun harus bisa memilah mana pelajar yang benar-benar melakukan pelanggaran. Kalau memang ada pelanggaran, aparat juga mesti mengacu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

    "Misalnya ada anak pelaku pidana seperti pembakaran, melempar batu, silakan itu diproses secara pidana dengan peraturan perundangan yang ada," ujarnya.

    Baca: Pemda Ancam 'DO' Siswa yang Ikut Demo Tolak Omnibus Law

    Bagi Retno, anak-anak yang ditangkap karena dicegah aparat kepolisian untuk melakukan demo, tidak bisa dihitung bersalah. Begitu juga mereka yang ada di lapangan, dan hanya menyampaikan aspirasinya atau melihat aksi unjuk rasa.

    "Untuk anak yang ditangkap sebelum sampai lokasi dan kemudian di lokasi tidak melakukan tindakan pidana, ya mestinya mereka tidak mendapat ancaman hukuman," tutur dia.

    Menurut dia, pelanggaran yang dilakukan oleh anak tidak bisa berdiri sendiri. Ada faktor kurangnya pengawasan orang tua, hingga pengaruh lingkungan.

    "Rencana dikeluarkannya anak dari sekolah merupakan tindakan semena-mena. Ini kan akan menghambat masa depan mereka, belum lagi ada perasaan dendam yang timbul dari anak-anak ini," tutup Retno.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id