Pelajar Disebut Tidak Paham Omnibus Law, Pengamat: Wajar

    Ilham Pratama Putra - 09 Oktober 2020 19:19 WIB
    Pelajar Disebut Tidak Paham Omnibus Law, Pengamat: Wajar
    Ilustrasi. Foto: MI/Susanto
    Jakarta:  Sejumlah pelajar tampak turut turun ke jalan untuk mengikuti demo tolak UU Cipta Kerja atau Omnibus Law di berbagai wilayah Indonesia. Namun kemudian para pelajar ketika ditahan oleh pihak kepolisian, kebanyakan dari mereka tak mengerti tujuan aksi unjuk rasa tersebut.

    Menurut Pakar Pendidikan Alternatif Muda, Roy Muntardho, adalah hal wajar jika pelajar tak paham apa yang sebenarnya mereka suarakan.  Mereka banyak bergerak atas dasar solidaritas dan pengetahuan mereka yang minim akan isu sosial politik di Tanah Air.

    "Kenapa hal itu terjadi, karena kita orang dewasa dan pendidikan kita sering mengisolasi percakapan sosial politik mereka. Tidak ada ruang diskusi bagi mereka," kata Roy dalam diskusi daring Demo Pelajar-Ikut Tolak Omnibus Law, Ruang Edukasi Terlalu Sempit, Ruang Reaksi Begitu Cepat” Jumat 9 Okober 2020.

    Itulah mengapa harusnya partisipasi mereka dilibatkan sejak awal. Menurutnya materi Omnibus Law memang tidak melibatkan partisipasi publik sejak awal, membuat minimnya edukasi.

    "Di saat ada kebingungan, di situ mereka mencari bahan sendiri," terangnya.

    Baca juga:  Usia 15 Tahun Waktu yang Tepat Mendapat Pendidikan Politik

    Jangankan pelajar, kata Roy. Dirinya saja yang sebagai peneliti merasa kebingungan dengan munculnya UU sapu jagat itu.

    Hal ini tak lepas dari cacat prosedur omnibus law bahkan sejak dalam bentuk rancangan. Malah kini DPR sendiri mengaku draf yang kadung disahkan tersebut belum final.

    "Kami yang ahli saja kebingungan nyari bahan yang bener gimana. Kita tanya ke DPR mana yang bener saja sebuah teka teki. Profesor saja kebingungan. Bagaimana dengan anak-anak, pasti lebih sulit, dan tentu berpotensi jadi korban hoaks," jelas Roy.

    Untuk itulah, pendidikan sosial politik dirasa penting untuk pelajar. Pendidikan anak di sekolah tidak boleh mencabut ruang diskusi mereka untuk melihat realitas nasional pada hari ini.

    "Anak harus dilibatkan dan itu wajar, anak tidak boleh lagi disudutkan," tutup dia.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id