Hasil PISA Jeblok, Sistem Pendidikan Berjalan Mundur

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 03 Desember 2019 20:30 WIB
    Hasil PISA Jeblok, Sistem Pendidikan Berjalan Mundur
    Guru sedang mengajar di kelas. Foto: MI/Bary Fathahilah
    Jakarta:  Merosotnya skor Programme for International Student Assessment (PISA) 2018
    yang baru dirilis Selasa sore, 3 Desember 2019 mengundang keprihatinan.  Berdasarkan hasil PISA 2018, skor Indonesia menurun, semula di posisi 62 dari 70 negara pada 2015, menjadi peringkat 72 dari 77 negara di 2018.

    "Peringkat kita (Indonesia) masih di 72. Salah satunya menunjukkan tingkat literasi kita masih rendah," ujar Debby Kurniawan dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.

    Hasil ini lebih rendah dari 2015 lalu, saat itu Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara. Menurutnya ini merupakan bukti sistem pendidikan di Indonesia tak hanya jalan di tempat, namun berjalan mundur.

    "Semestinya perencanaan pendidikan dilakukan dengan baik, tentu hasilnya akan maksimal. Kalau sekarang PISA saja peringkatnya turun, ini perlu dipertanyakan. Ada apa dengan sistem pendidikan kita," terangnya.

    Data dari hasil PISA 2018 menunjukkan nilai kompetensi siswa Indonesia dalam membaca 371 poin, matematika 379 poin, dan nilai sains 396. Sementara pada 2015 lalu nilai membaca 403, matematika 397, dan nilai sains 386.

    "Literasi dasar membaca kita sangat rendah. Malah mengalami penurunan. Ini jelas pekerjaan rumah (PR) untuk Menteri Nadiem," tuturnya.

    Ia pun meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di bawah menteri anyarnya terus meningkatkan kualitas pendidikan.  Menurutnya, tingkat membaca masih 30 persen, matematika baru 29 persen dan kemampuan sains baru 40 persen.

    "Harus ada perubahan pada sistem pembelajaran kita dari berbasis kertas ke komputer. Tuntutan era revolusi industri 4.0 kita juga harus didukung dengan literasi membaca yang baik. Tanpa itu mustahil kita bisa menguasai Iptek (Ilmu pengetahuan dan teknologi)," jelasnya.

    Ia menilai, rendahnya tingkat literasi di Indonesia dikarenakan banyak hal. Salah satunya adalah penggunaan teknologi yang kurang bijaksana. 

    Pemerintah menurutnya punya pekerjaan rumah untuk bisa menyadarkan masyarakat tentang melek teknologi yang baik.

    Debby menyebut, tingkat literasi membaca sangat mempengaruhi tingkat perekonomian suatu negara. Namun hingga saat ini, ia menyebut Indonesia masih belum bisa menciptakan anak-anak  yang kritis dan analitis. Padahal anggaran pendidikan besar, guru juga sudah banyak pelatihan 

    "Kita akan minta Kemendikbud mengevaluasi lagi sistem pendidikan kita. Kan anggaran pendidikan kita besar dan selama ini sejumlah program untuk peningkatan SDM  guru dan infrastruktur sudah ditingkatkan," tandasnya.

    Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang tahun ini diikuti oleh 77 negara di seluruh dunia.
     
    Setiap tiga tahun, murid-murid berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak, menempuh tes dalam mata pelajaran utama, yaitu membaca, matematika, dan sains. Tes ini bersifat diagnostik yang digunakan untuk memberikan informasi yang berguna untuk perbaikan sistem pendidikan. Indonesia telah berpartisipasi dalam studi PISA mulai 2000.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id