Rektor ITB: Audit Internal Penting dalam Mengelola Perguruan Tinggi

    Arga sumantri - 18 Mei 2020 13:40 WIB
    Rektor ITB: Audit Internal Penting dalam Mengelola Perguruan Tinggi
    Ilustrasi. Medcom.id
    Bandung: Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Reini Wirahadikusumah menyampaikan Satuan Pengawas Internal (SPI) penting dalam mengawasi akuntabilitas di Kampus ITB dengan segala aspek yang melingkupinya. Makanya, akuntabilitas perlu dijaga dan diawasi dalam berjalannya suatu sistem. 

    "Suatu sistem juga memiliki otonomi untuk memberlakukan pengawasan akuntabilitas di kampusnya," kata Reini megutip laman ITB, Senin, 18 Mei 2020. 

    Salah satu auditor internal Sarwono menerangkan, auditor memiliki peran sebagai evaluator sesuai dengan tingkatan bloom taksonomi berdasarkan domain kognitif. Itu artinya, auditor sudah memiliki kemampuan High Order Thingking Skill (HOTS). Auditor memiliki beberapa kontrol dalam pelaksanaan suatu sistem yang diantaranya kontrol desain. 

    "Audit internal merupakan suatu penjaminan (assurance) atas tujuan dan konsultasi yang independen dan objektif, dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan operasi organisasi,"ujar Sarwono.

    Ia menambahkan pengertian tersebut memberikan insight baru auditor kepada suatu sistem, bahwa auditor memiliki tujuan untuk membantu organisasi mencapai tujuan. Selain itu, mengefektifkan proses manajemen risiko, penjaminan (assurance) konsultasi untuk meningkatkan nilai tambah dan operasi. Sarwono mengatakan ada baiknya untuk menyejajarkan kedudukan auditor dengan akuntan, dan bukan di bawahnya.

    Auditor lainnya, Budhi Prihartono menjelaskan pelaksanaan audit di perguruan tinggi khususnya ITB mengacu pada sistem Risk-Based Internal Auditing (RBIA) atas dasar pelaksanaan manajemen risiko yang telah dijalankan pada perguruan tinggi, khususnya ITB. Tujuan dari RBIA sendiri adalah menguji efektivitas manajemen risiko dalam mengelola risikonya. 

    "RBIA bukan berarti audit terhadap risiko, namun audit terhadap proses manajemen risiko. Konsep ini menegaskan pemisahan peran dan tanggung jawab audit internal dan peran dan tanggung jawab manajemen risiko,” ujar Budhi.

    Baca: Kemendikbud Diminta Fokus Integrasi Teknologi dalam Belajar Mengajar

    Budhi melanjutkan, audit internal memiliki peran penting dalam struktur tata kelola perguruan tinggi untuk memastikan manajemen risiko yang efektif. Manajemen senior perlu mengandalkan tiga fungsi garis pertahanan audit yang termuat pada konsep three lines of defence dalam audit untuk memastikan efektivitas kerangka kerja manajemen risiko organisasi.

    Garis pertahanan pertama, merupakan fungsi yang memiliki dan mengelola risiko. Lalu, garis pertahanan kedua merupakan fungsi yang mengawasi atau berspesialisasi dalam manajemen risiko. Sedangkan, garis pertahanan ketiga merupakan fungsi yang memberikan jaminan independen di atas semua audit internal.

    Budhi menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan audit di ruang lingkup kampus khususnya ITB, sangat dibutuhkan komitmen dan sumber daya organisasi dari Majelis Wali Amanat (MWA), manajemen-manajemen, forum guru besar, serta stakeholder perguruan tinggi lainnya. Ini untuk melembagakan secara konsisten, terintegrasi, dan terukur konsep three lines of defense di perguruan tinggi.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id