Guru Besar UI: Medsos Sebabkan Permasalahan Jati Diri dan Eksistensi

    Antara - 18 Oktober 2021 21:23 WIB
    Guru Besar UI: Medsos Sebabkan Permasalahan Jati Diri dan Eksistensi
    Ilustrasi. Medcom.id



    Depok: Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof. Elizabeth Kristi Poerwandari mengatakan penggunaan media sosial (medsos) cenderung menyebabkan penggunanya mengalami permasalahan jati diri dan eksistensi. Hal tersebut disampaikan saat pengukuhan guru besarnya yang berjudul 'Manusia Dalam Era Industri Ke-empat: Isu Kesehatan Mental, Eksistensi, & Psikologi Sebagai Ilmu'.

    "Ini karena pengguna media sosial cenderung membandingkan diri dengan teman sebaya yang tampil lebih cantik, kaya, lebih banyak teman, lebih keren, pandai, atau lebih internasional di media sosial," kata Elizabeth dalam keterangannya, Senin, 18 Oktober 2021.

     



    Akhirnya, kata dia, cara manusia mengukur nilai diri menjadi lebih superfisial, permukaan, dan shallow. Penampilan, status sosial, dan kemakmuran menjadi lebih penting daripada spiritualitas, kedamaian diri, ataupun pengetahuan.

    "Rasa sepi juga menjadi salah satu dampak sosial tertinggi yang terjadi di kalangan anak muda," ujarnya.

    Baca: Mengenal Masa Golden Age Anak

    Menurut dia, hal ini terjadi karena di era sekarang, komunikasi tidak perlu selalu dilakukan dengan tatap muka. Sedangkan, ada unsur-unsur komunikasi yang tidak dapat digantikan dari kegiatan bertemu langsung, seperti ikatan emosional, kehangatan, dan kemampuan membaca situasi-kondisi.

    "Kemampuan-kemampuan ini tidak dilatih dalam interaksi maya, sehingga kemampuan bersosialisasi manusia menjadi berkurang," ungkapnya.

    Kemudian, Sifat anonimitas (tidak bernama) dalam interaksi maya juga mengakibatkan manusia dapat melepaskan sisi-sisi agresifnya tanpa harus bertanggung jawab terhadap perilakunya tersebut. Makanya, fenomena cyber bullying kini tumbuh subur.

    Belum lagi kecemasan kolektif yang kini kerap terjadi karena arus informasi yang semakin cepat dan tidak tersaring (hoaks). Teknologi menyebabkan suatu kondisi yang tidak bisa lagi membedakan antara mana yang real (nyata) dan mana yang merupakan pencitraan semata.

    "Ini menjadi sebuah isu tersendiri di era digital ini. Virtualitas menjadi realitas. Inilah yang kita sebut kondisi hiperrealitas," terangnya.
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id