Hadapi Bonus Demografi, Kualitas Kelompok Usia Kerja Masih Bermasalah

    Arga sumantri - 15 Februari 2021 11:02 WIB
    Hadapi Bonus Demografi, Kualitas Kelompok Usia Kerja Masih Bermasalah
    Guru Besar Unpad, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, DEA. Dok Humas Unpad.
    Bandung: Bonus demografi selama ini dinilai menjadi peluang bagi pertumbuhan Indonesia. Namun, ternyata menyimpan masalah bila tidak didukung dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang baik. 

    Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Ganjar Kurnia memaparkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar bonus demografi bisa menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Salah satunya, adalah adanya tenaga kerja yang besar dan berkualitas.

    "Suplai tenaga kerja yang besar dan berkualitas akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat," ungkap Ganjar mengutip siaran pers Unpad, Senin, 15 Februari 2021.

    Baca: Perlu Narasi Baru untuk Menghidupkan Pancasila, Bisa Dimulai dari Kampus

    Sayangnya, kualitas SDM kelompok usia kerja Indonesia menghadapi bonus demografi masih jauh dari harapan. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, persentase jumlah penduduk usia kerja, yakni 15-64 tahun adalah sebesar 194 juta atau 69,2 persen dari penduduk Indonesia.

    Jumlah penduduk usia kerja tersebut ternyata belum seluruhnya mendapatkan pekerjaan. Ketua Senat Akademik Unpad ini memaparkan, dari 131 juta penduduk produktif yang masuk ke dalam kelompok angkatan kerja, ada tujuh juta penduduk yang menganggur. 

    Selain itu, sekitar 65 persen pekerja berada di sektor informal. Sektor ini, menurut Ganjar, sangat rentan terhadap ketidakpastian pendapatan dan jaminan sosial. 

    Pandemi covid-19 turut berdampak pada meningkatnya angka pengangguran. Data Badan Pusat Statistik pada November 2020 memaparkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk kelompok laki-laki serta TPT perkotaan pada Agustus 2020 mengalami peningkatan. Rerata TPT pada 2020 mengalami peningkatan sebesar 7,07 persen.

    "Jangankan mendapat pekerjaan baru, orang-orang yang selama ini sudah bekerja juga banyak yang menganggur," tuturnya.

    Baca: Strategi Lolos SNMPTN/SBMPTN 2021, UNS: Harus Realistis

    Mantan Rektor Unpad ini memaparkan, dari sisi pendidikan, rata-rata lama sekolah di Indonesia hanya 8,34 tahun. Ini berarti, target harapan lama sekolah sebesar 12,95 tahun tidak tercapai.

    Persentase tingkat lulusan perguruan tinggi masih berkisar di angka 9,49 persen. Angka yang sedikit tersebut masih belum terserap seluruhnya di sektor kerja. Hal ini dibuktikan dengan data TPT menurut pendidikan pada 2019, TPT pendidikan tinggi sebesar 6,24 persen. Sementara, TPT pendidikan paling tinggi berasal dari lulusan SMK, yaitu 8,63 persen.

    "Karena itu, bonus demografi jangan dipandang sebagai insentif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ada beragam masalah yang masih perlu dibenahi," ujarnya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id