comscore

Pakar Unair Ingatkan Sembuh dari PMK, Hewan Ternak Masih Menghasilkan Virus

Renatha Swasty - 12 Mei 2022 19:11 WIB
Pakar Unair Ingatkan Sembuh dari PMK, Hewan Ternak Masih Menghasilkan Virus
Ilustrasi sapi. Medcom
Jakarta: Hewan ternak yang terserang penyakit mulut dan kuku (PMK) dapat sembuh dengan sendirinya setelah 14-21 hari. Namun, hewan ternak yang sudah sembuh tidak boleh disatukan kandang dengan hewan yang belum terserang.

Sebab, hewan tersebut masih menghasilkan virus. Hal tersebut diungkap DTAPH dari Divisi Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Mustofa Helmi Effendi.
“Jadi, jangan pernah sapi yang sudah sembuh ini dikeluarkan dari daerahnya itu menuju daerah lain yang belum terjadi outbreaks maka akan terjadi outbreaks di daerah lain yang didatangi sapi itu,” kata Helmi dikutip dari laman unair.ac.id, Kamis, 12 Mei 2022.

Helmi menjelaskan hewan yang sudah sembuh dari PMK masih mampu menghasilkan virus dan menularkan pada hewan lain. Dia mengimbau masyarakat tidak memindahkan hewan ternak yang sudah sembuh PMK ke daerah lain.

Hal tersebut untuk menghindari penyebaran virus di daerah yang belum pernah terserang PMK. Juru bicara satuan tugas (satgas) penanganan PMK FKH Unair itu mengungkapkan virus PMK merupakan virus yang mudah dimatikan.

Virus PMK bisa dimatikan oleh pH rendah, pH tinggi, dan disinfektan. Namun, virus PMK ini memiliki kemampuan penyebaran yang sangat cepat.

“Kemampuan virus ini morbiditasnya hampir 100 persen,” ungkap dia.

Helmi mengimbau peternak rutin menyemprotkan disinfektan di kandang yang belum terserang PMK setiap 4 hari sekali. Dia juga menyarankan tidak sembarang orang masuk ke kandang kecuali menggunakan APD yang baru.

“Dikhawatirkan orang itu membawa virus dan dapat menularkan pada hewan ternak,” tutur dia.

Helmi menuturkan vaksinasi pada hewan ternak untuk menghindari penyebaran PMK sebaiknya menggunakan virus lokal. Penggunaan virus lokal tersebut memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Dia menyebut virus lokal yang digunakan untuk vaksinasi harus berasal dari daerah yang sama.

“Kita tampung sebanyak-banyaknya virus lokal, misalnya dari Jawa Timur saja karena virus lokal yang ada di Aceh dan Jawa Timur mungkin berbeda,” tutur dia.

Helmi juga menuturkan vaksinasi sebaiknya ditujukan di daerah terserang PMK untuk kandang yang masih sehat atau belum terserang. Sebab, kandang tersebut berdekatan dengan kandang terserang dan kemungkinan untuk tertular besar.

Dia juga memastikan daging dan jeroan sapi yang terserang PMK aman dikonsumsi. Namun, daging sapi yang terserang PMK harus dilakukan pelayuan dahulu sebelum dikonsumsi. Proses pelayuan daging tersebut berfungsi untuk menurunkan tingkat kontaminasi virus.

“Dilayukan itu fungsinya untuk menurunkan tingkat kontaminasi virus bukan untuk mematikan karena nanti droping pH, pH yang menurun ini tidak disukai virus, kemampuan mengkontaminasi daging akan hilang,” jelas dia.

Helmi menjelaskan proses pelayuan yang dapat dilakukan dengan cara daging digantung di suhu ruang selama dua sampai tiga jam. Meskipun daging tidak direbus, daging tersebut masih aman untuk dikonsumsi.

“Konsepnya begini, kalau direbus itu menghilangkan virus yang ada, jadi kalau tidak direbus sebetulnya tidak masalah karena virusnya tidak menyerang manusia,” tutur dia.

Baca: Pakar Unair Sebut Daging Hewan Terdampak Penyakit Mulut dan Kuku Aman Dikonsumsi
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id