Nadiem: Asesmen Nasional Bukan Hal yang Bisa 'Dibimbelkan'

    Citra Larasati - 13 Oktober 2020 13:29 WIB
    Nadiem: Asesmen Nasional Bukan Hal yang Bisa 'Dibimbelkan'
    Suasana Ujian Nasional Kertas dan Pensil di salah satu sekolah. Foto: MI/Adi Kristiadi
    Jakarta:  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menjelaskan kebijakan Asesmen Nasional yang akan diterapkan mulai tahun depan.  Kebijakan yang diberi nama Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter ini merupakan pengganti UN (Ujian Nasional) yang telah dihapus beberapa waktu lalu.

    Nadiem saat diundang menjadi tamu di Live Instagram aktris sekaligus model Dian Sastrowardoyo akhir pekan lalu menjelaskan, bahwa kebijakan asesmen nasional ini diambil berdasarkan sejumlah pertimbangan.  "Simpelnya seperti ini, waktu masih ada UN anak-anak dipilih untuk bisa masuk SMP dan SMA mereka berdasarkan nilai UN mereka. Makanya meledak industri bimbel (bimbingan belajar)," kata Nadiem dikutip dari akun Instagram @therealdisastr.

    Namun setelah hasil asesmen internasional seperti PISA keluar, sangat terlihat bahwa Ujian Nasional tidak berdampak pada peningkatan kompetensi siswa, terutama di tiga kompetensi yakni literasi, numerasi dan sains.  Bahkan nilai PISA menunjukkan bahwa UN telah membuat anak-anak yang memiliki nilai tingga bergerombol di sekolah-sekolah tertentu yang berlabel favorit.

    "Saat nilai PISA (Programme for International Student Assessment) keluar, kelihatan banget semua murid-murid yang lebih mampu bergerombol di SMA negeri, anak yang tidak mampu bergerombol di swasta. Kenapa? alasannya adalah karena UN, yang bisa bimbel itu anak-anak yang mampu (kaya).  Diskriminasi nasional terjadi selama berpuluh-puluh tahun ini untuk apa?" tegas Nadiem.

    Padahal menurut amanat undang-undang, kata Nadiem, asesmen yang bersifat nasional harusnya dapat mengukur capaian sistem pendidikan, bukan potensi individual peserta didiknya.  "Jadi hanya karena dua jam tes, seumur hidup dihakimi. Itu yang terjadi sebelumnya," beber Nadiem.

    Baca juga:  Ketika Dian Sastro Ngobrol Bareng Nadiem Pakai Elu Gue

    Sedangkan konsep asesmen nasional yang ditawarkan Nadiem mulai tahun depan ini adalah sistem evaluasi pada kualitas pendidikan sekolah.  "Ini bukan tes mengukur potensi siswa ke depannya.  Jadi asesmen nasional ini bukan hal yang bisa dibimbelkan. Ini untuk mengukur kemampuan kita bernalar kritis, membaca, akan ada juga survei lingkungan sekolah," tegas Nadiem.

    Akan ada tiga instrumen terpisah yang harus dijawab peserta didik dalam Asesmen Nasional tersebut.  Ketiganya akan mengukur enam Profil Pancasila yang tengah digaungkan Kemendikbud.

    "Misal norma toleransi di dalam sekolah seperti apa? akan ditanyakan norma-norma apa saja yang terjadi di sekolah.  Seberapa penting bekerja sama," ujar Nadiem memberi contoh.
    ada tiga instrumen terpiah agar anak menjawab,

    Data yang didapat dari asesmen ini cukup dengan mengambil sample dari setiap angkatan tersebut.  "Hasil tes itu tidak bisa digunakan lagi untuk alat penghukuman siswa. Bagian dari rapor, ini kekurangannya, kelemahannya, untuk memberikan umpan balik ke sekolah, dinas, juga pemdanya," terang Nadiem.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id