Festival Sains dan Budaya 2020

    Tekan Perundungan dengan Menggenjot Tradisi Berprestasi Siswa

    Citra Larasati - 15 Februari 2020 18:31 WIB
    Tekan Perundungan dengan Menggenjot Tradisi Berprestasi Siswa
    Jumpa Pers Festival Sains dan Budaya (FSB) 2020. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
    Jakarta:  Maraknya perundungan dan kekerasan yang terjadi di sekolah dinilai sebagai dampak minimnya wadah bagi siswa untuk menyalurkan waktu dan energinya.  Untuk itu, sekolah harus peka mendeteksi minat dan bakat siswa, sekaligus aktif menciptakan atau mencarikan wadah bagi siswanya untuk berkembang dan berprestasi. 

    Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Liliana Muliastuti mengaku belum sepenuhnya yakin jika sejumlah perundungan yang viral di media sosial belakangan ini benar-benar terjadi massif di sekolah-sekolah di Indonesia.  "Saya menduga persentasenya tidak sebesar yang dikhawatirkan, video-video perundungan itu heboh karena itu viral," ujar Liliana kepada Medcom.id, di sela-sela Konferensi Pers Festival Sains dan Budaya (FSB) 2020. 

    Namun menurut Liliana, hal tersebut juga tidak dapat begitu saja dianggap sepele.  Ia yakin di tengah banyaknya sekolah yang kecolongan kasus perundungan dan kekerasan, masih banyak sekolah yang memiliki manajemen pengelolaan siswa yang baik.

    "Ada sejumlah sekolah di Jakarta misalnya, yang ketika musim tawuran siswanya tidak ikut-ikutan meski sudah dipanas-panasi oleh siswa sekolah lain.  Ini karena di sekolah mereka memiliki 'imun' yang baik terhadap 'penyakit' kekerasan," kata Liliana.

    Imun itulah yang menurut Liliana perlu dibangun oleh sekolah, agar setiap siswanya terlindung dari tindak kekerasan.  Tidak menjadi korban maupun pelaku perundungan dan kekerasan.

    Menurut Liliana, salah satu cara yang dapat dilakukan sekolah untuk meningkatkan daya imun tersebut adalah dengan meningkatkan tuntutan bagi siswanya untuk berprestasi.  Tidak hanya menuntut, tapi sekolah juga harus membangun sistem kepekaan dalam mendeteksi minat dan bakat siswa yang dapat dikembangkan.

    Minat dan bakat itu juga harus dihilirisasi dengan menyediakan wadah-wadah bagi siswa untuk berkembang dan berprestasi.  "Jadi ketika siswa kita sibuk mengasah bakat, menyiapkan diri untuk berkompetisi, maka tidak ada lagi waktu untuk iseng, karena siswa ada tuntutan prestasi. Tidak ada lagi waktu untuk merundung, karena mereka akan disibukkan dengan kegiatan positif," tegas Liliana.

    Liliana juga mengingatkan kepada para pendidik, bahwa sekolah harus mampu menjadi tempat di mana anak tidak hanya belajar tentang akademik dan keilmuan.  Namun juga tempat untuk mengasah cipta, karya dan karsa.

    Selama ini, kata Liliana, ada kemungkinan perundungan dan kekerasan muncul karena siswa kekurangan wadah untuk mengasah cipta, karya, dan karsanya.  Sehingga siswa banyak mencurahkan energi dan waktunya untuk hal-hal yang negatif.

    Untuk itu, ia mendorong agar setiap sekolah mendukung semua siswanya untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya.  Sekolah harus aktif membantu siswa mencarikan ajang-ajang kompetisi baik tingkat sekolah, regional, nasional hingga internasional bagi siswanya.

    Kompetisi FSB 

    Salah satunya adalah dengan mengikuti kompetisi seperti Festival Sains dan Budaya (FSB) yang akan digelar di Sekolah Kharisma Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan pada 21-23 Februari 2020.  Kompetisi FSB merupakan penggabungan dari dua program besar Indonesia Science Project Olympiad (ISPO) ke 12 dan Olimpiade Seni dan Bahasa Indonesia (Osebi) ke-6. Tahun ini Festival Sains dan Budaya ini digelar dengan mengambil tema "Bangun Generasi Gemilang".

    Liliana yang juga merupakan Presiden OSEBI ini menjelaskan, OSEBI merupakan ajang tahunan yang menjadi media untuk menggali bakat, kemampuan, kecerdasan siswa, memperkaya sumbangsih bagi khasanah budaya bangsa.  Salah satunya dengan memberi kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan kecerdasan di bidang seni dan bahasa Indonesia.

    Kegiatan ini diperuntukkan bagi generasi muda Indonesia di usia 6-18 tahun.  "Wadah seperti OSEBI ini dapat mengasah cipta, karya, dan karsa siswa," kata Liliana.

    Sedangkan ISPO merupakan sebuah kegiatan olimpiade proyek penelitian dalam bidang sains, teknologi, lingkungan, dan komputer.  Kegiatan ini diperuntukkan bagi para generasi muda Indonesia yang bersekolah di jenjang SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK seluruh Indonesia.

    Presiden ISPO, Riri Fitri Sari mengatakan, kompetisi di bidang apa saja termasuk ISPO dan OSEBI dapat meningkatkan tradisi berkompetisi bagi siswa dan sekolah.

    "Selama ini minat dan bakat mereka banyak ditampung lewat ekstrakurikuler, dengan kompetisi ini dapat didorong lagi untuk mencetak prestasi," terang guru besar Teknik Komputer Universitas Indonesia (UI) ini. 

    Prestasi yang diraih siswa, nantinya akan sangat bermanfaat bagi siswa untuk memperkaya portofolionya saat lulus sekolah.  "Tiap sekolah harus aktif membuat perayaan kompetisi.  Manfaatkan jalur-jalur prestasi yang dibuka sekolah-sekolah dan perguruan tinggi favorit.  Prestasi yang dikantongi siswa dari berbagai ajang kompetisi dapat menjadi kartu untuk masuk ke sekolah atau kampus idaman mereka," tegas Riri.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id