Kemendikbud Sisir Kebijakan yang Membebani Guru

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 26 November 2019 18:57 WIB
    Kemendikbud Sisir Kebijakan yang Membebani Guru
    Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kemendikbud, Supriano. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
    Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah menyisir kebijakan atau aturan-aturan yang dinilai memberatkan guru. Terutama terkait beban administrasi yang selama selalu dikeluhkan guru, karena menguras waktu dan energi sehingga membatasi ruang guru dalam berinovasi.

    Direktur Jenderal (Dirjen) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Supriano menyebut, penyisiran ini dilakukan lantaran harus menyinkronkan dengan peraturan dari kementerian lainnya.

    "Semuanya itu kan ada peraturan ya, ada peraturan Menpan RB (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, ada peraturannya BKN (Badan Kepegawaian Negara), ada juga Kemendikbud, nah ini kita sisir dulu menuju ke arah yang pak menteri maksudkan itu," kata Supriano di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Selasa, 26 November 2019.

    Sementara soal masalah kesejahteraan guru, Supriano mengatakan Kemendikbud terus melakukan perbaikan. Ono menyebut, salah satunya sejak 2018 sudah dibuka kembali Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Kemudian di 2019 sudah ada penerimaan guru honorer yang menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

    "Artinya ini kita sudah mulai,"ujarnya.

    Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim dalam pidatonya di Hari Guru Nasional menegaskan bakal memperjuangkan kemerdekaan belajar di Indonesia. Mengingat selama ini banyak hal yang mengganjal optimalisasi proses belajar, terlebih lagi guru yang selama ini menurut Nadiem harus banyak dibebani tugas administratif.

    Hal-hal administrasi tersebut membuat guru tidak optimal mengajar. Padahal guru mempunyai tugas yang lebih penting untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

    "Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas," ucap Menteri 35 tahun ini.

    Belum lagi kurikulum yang banyak, membuat guru tak berkutik untuk melakukan inovasi dalam kegiatan belajar mengajar. "Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan," kata mantan Bos Gojek ini.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id