Miskin Inovasi, Sekolah dan Guru Terbelenggu Banyak Regulasi

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 30 November 2019 07:07 WIB
    Miskin Inovasi, Sekolah dan Guru Terbelenggu Banyak Regulasi
    Seorang guru tengah mengajar murid di muka kelas, MI/Gino Hadi.
    Jakarta:  Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Muchlas Samani menyebut, sejatinya sampai saat ini sekolah belum mendapatkan kepercayaan untuk berinovasi. Akibatnya sekolah dan guru menjalankan proses pembelajaran sebatas mengikuti regulasi yang ada.

    Hal tersebut terjadi, lantaran ada over regulated atau terlalu banyaknya regulasi yang dibebankan ke sekolah dan guru dari pemerintah. "Sebenarnya kita belum memberikan kepercayaan kepada sekolah untuk berinovasi, yang mungkin berbeda dengan pikiran pembuat regulasi, over regulated.  Kondisi ini membuat sekolah dan guru beranggapan 'ya sudah mengikuti aturan yang ada saja'.  Apakah anaknya pintar atau enggak itu nomor dua, yang penting mengikuti regulasi," kata Muchlas, saat ditemui di Kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat, 29 November 2019.

    Untuk itu, kata Muchlas, seharusnya regulasi bisa lebih dilonggarkan.  Sehingga sekolah dapat bernapas lega bahkan inovasi pun bisa memiliki ruang untuk bermunculan.  "Sekolah boleh berimprovisasi, yang penting anaknya bisa belajar dengan baik," ujar pria 68 tahun ini.

    Menurut mantan rektor Unesa ini, melonggarkan kebijakan bisa dilakukan dengan mengoptimalkan peran sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).  Sehingga sekolah memiliki hak penuh untuk mengambil keputusan, tentunya tanpa melanggar koridor.

    "Sekolah dapat punya ruang gerak mengambil keputusan untuk sekolahnya sendiri, walaupun dalam bingkai kebijakan yang sifatnya umum. Misalnya soal jam istirahat, seragam, biar sekolah yang mengatur tapi standar harus dibakukan. Anak kelas satu misalnya harus bisa ini, soal cara mengajarnya biar mereka (guru) yang menentukan," ucap pria kelahiran Ponorogo, Jawa Timur ini.

    Ia pun mencontohkan, dampak terlalu banyaknya regulasi adalah semua hal terlalu detail diatur pemerintah.  Ketika ada pelatihan guru di Maros, Sulawesi Selatan misalnya, ia menemukan plastisin (adonan lunak berwarna-warni yang dapat dibuat menjadi berbagai bentuk hiasan) secara jamak digunakan sebagai media pembelajaran, untuk mengganti lempung alias tanah liat.

    Padahal di lingkungan sekolah setempat sangat berlimpah tanah liat.  "Kalau punya (tanah liat) ngapain pakai itu plastisin? Jadi guru dan sekolah terbelenggu, karena contohnya sudah diatur harus ini, harus itu," ungkapnya.

    Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menyampaikan pidato dalam menyambut peringatan Hari Guru Nasional yang diperingati setiap 25 November 2019. Dalam teks pidato yang diterima Medcom.id Nadiem secara tegas menyatakan bakal memperjuangkan kemerdekaan belajar di Indonesia.

    Mengingat selama ini banyak hal yang mengganjal untuk belajar, terlebih lagi guru yang selama ini menurut Nadiem harus banyak dibebani tugas administratif.  Belum lagi kurikulum yang padat, membuat guru tak berkutik untuk melakukan inovasi dalam kegiatan belajar mengajar.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id