Peneliti LIPI: Upaya Pelurusan Sejarah G30S Tertutup Isu Kebangkitan PKI

    Arga sumantri - 30 September 2020 22:27 WIB
    Peneliti LIPI: Upaya Pelurusan Sejarah G30S Tertutup Isu Kebangkitan PKI
    Peneliti sejarah LIPI, Asvi Warman Adam. Zoom
    Jakarta: Peneliti sejaran dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam mengatakan, upaya pelurusan sejarah mengenai Gerakan 30 September 1965 (G30S) selalu terganjal sejak era reformasi. Salah satunya, oleh isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

    Ia menjelaskan, sejak era reformasi sudah mulai muncul upaya-upaya pelurusan sejarah mengenai peristiwa G30S. Ketika itu, banyak muncul buku-buku baru, kesaksian korban, dan teori baru mengenai dalang G30S. 

    Secara bersamaan, kata dia, upaya penegakan hak asasi manusia (HAM) juga dilakukan terkait peristiwa G30S. Penegakan HAM dimaksud yakni adanya dorongan agar dilakukan pengadilan HAM ad hoc, juga pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR).

    "Tapi, itu semua menjadi terhenti, antara lain dihentikan atau dihimpit dengan isu kebangkitan PKI," kata Asvi dalam webinar yang digelar lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Rabu, 30 September 2020.

    Ia menambahkan, sejak 1998 sampai 2016, upaya pelurusan sejarah peristiwa G30S terjadi pasang surut diakibatkan banyak hal. Salah satunya, adanya International People's Tribunal (IPT) atau pengadilan rakyat tragedi 1965.

    Baca: Sejarawan UIN: Tak Mungkin PKI Bangkit Kembali

    IPT 1965 ini merupakan pengadilan rakyat yang diprakarsai masyarakat sipil untuk mengungkap kebenaran tentang apa yang terjadi setelah peristiwa G30S. Pengadilan rakyat ini digelar di Den Haag pada 11-13 November 2015.

    "IPT 65 sebetulnya meringkas apa yang terjadi, pelanggaran HAM yang terjadi pada masa itu. IPT 65, ditambah dari proses penyidikan oleh Komnas HAM, menambah satu unsur lain yang merupakan tuduhan oleh negara yaitu kekerasan terhadap perempuan," paparnya.

    Setelah 2016, kata dia, muncul isu kebangkitan PKI. Ia menilai situasi ini sangat mengganggu upaya pelurusan sejarah. Sebab, masyarakat dibanjiri informasi sepihak tentang kronologi pembantaian PKI. 

    "Mereka yang percaya kebangkitan PKI itu sepertinya secara rutin menerima informasi hoaks semacam itu. Itu beberapa dampak yang sangat buruk dari isu kebangkitan PKI ini," ungkapnya.

    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id