Survei IGI: Kinerja Kemendikbud Era Nadiem Biasa Saja

    Arga sumantri - 20 Mei 2020 16:50 WIB
    Survei IGI: Kinerja Kemendikbud Era Nadiem Biasa Saja
    Mendikbud Nadiem Makarim. Tangkapan Layar Zoom.
    Jakarta: Ikatan Guru Indonesia (IGI) menggelar jajak pendapat terkait kinerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di bawah kepemimpinan Nadiem Makarim. Hasil survei menyimpulkan kinerja Kemendikbud selama dipimpin Nadiem masih biasa saja.

    Ketua IGI Muhammad Ramli Rahim menjelaskan, hal pertama yang disurvei yakni terkait komunikasi Kemendikbud selama satu semester terakhir. Hasilnya, 54,2 persen responden menganggap kemampuan komunikasi Kemendikbud era Nadiem mendapat nilai C.

    "Atau biasa saja, tak ada yang luar biasa," kata Ramli melalui siaran pers, Rabu, 20 Mei 2020. 

    Ramli menambahkan, sebanyak 10,7 persen responden guru memberikan nilai D, atau menganggap komunikasi Kemendikbud belum baik. Ada 5,4 persen responden yang memberikan nilai E, atau menganggap komunikasi Kemendikbud masih buruk, terutama di era pandemi virus korona (covid-19). 

    "Meskipun demikian sudah ada 23,2 persen yang memberikan nilai B atau menganggap komunikasi Kemendikbud sudah baik dan hanya 6,5 persen yang memberikan nilai A atau sangat baik," ujarnya

    Ramli menduga penilaian ini terjadi lantaran hampir semua jajaran eselon 1 berstatus Pelaksana tugas (Plt) dan irit bicara. Sementara Nadiem, dinilai sebagai menteri yang sulit dikontak langsung, termasuk oleh organisasi guru, berbeda dengan menteri-menteri sebelumnya.

    Hal lain yang disurvei yakni terkait collaboration. Sebanyak 58 persen responden memberikan nilai C atau menganggap kemampuan Kemendikbud membangun kolaborasi di semester pertama biasa-biasa saja. Sementara, 13,7 persen memberikan nilai D, atau menganggap kemampuan Kemendikbud membangun kolaborasi masih belum baik. 

    Sebanyak 4,8 persen, kata Ramli, memberikan nilai E dan menganggap kemampuan Kemendikbud membangun kolaborasi masih buruk. Namun, kata Ramli, ada 18,2 persen Responden memberikan nilai B atau menyatakan sudah baik. Hanya 5,4 persen memberikan nilai A, atau menyatakan sangat baik.

    Ramli mengatakan, minimnya kolaborasi Kemendikbud dengan berbagai institusi dalam mengatasi problem pembelajaran di tengah covid 19 diduga menjadi penyebab penilaian responden. "Bahkan Kemendikbud dianggap berlepas tangan dengan menyerahkan proses belajar kepada layanan pendidikan berbayar di awal-awal pandemi," bebernya.

    Berikutnya yang disurvei terkait kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah. Dua hal ini menjadi pertanyaan terpisah. Ramli menuturkan, mayoritas responden masih memberikan nilai C kepada Kemendikbud terkait dua aspek tersebut.

    Rinciannya, 53,3 persen responden guru menganggap kemampuan berpikir kritis Kemendikbud atas segala masalah masih biasa saja. Sebanyak 19,9 persen responden menganggap Kemendikbud belum mampu berpikir kritis. Ada 3,9 persen responden menganggap buruk.

    "Tak ada yang istimewa, Merdeka Belajar belum tampak akan seperti apa wujudnya. Bahkan di masa pandemi justru seperti hilang tertelan wabah.

    Baca: Harkitnas 2020, Jokowi Luncurkan 55 Produk Inovasi Covid-19

    Ramli mengatakan ada 16,7 responden yang menganggap Kemendikbud memiliki kemampuan berpikir kritis baik. Sebanyak 6,3 persen responden lainnya menganggap sangat baik.

    Kemampuan Kemendikbud memberikan solusi atas masalah pendidikan dan covid-19 juga masih dinilai biasa saja oleh 50,9 persen responden. Ada 20,2 persen menganggap Kemendikbud belum mampu menemukan problem solving dan memberikan nilai D. 7,1 persen responden lainnya menganggap problem solving Kemendikbud masih buruk.

    Sementara, ada 17,9 persen responden yang menganggap kemampuan problem solving Kemendikbud sudah baik dan memberikan nilai B. Ada 3,9 persen yang menilai kemampuan Kemendikbud memberikan solusi atas masalah pendidikan sudah sangat baik.

    Bagian terakhir yang disurvei yakni terkait creativity and innovation. Sebanyak 18,8 persen menganggap Kemendikbud belum kreatif dengan memberikan nilai D. Sementara, 3,3 persen responden kreativitas Kemendikbud era Nadiem buruk. 

    Sebesar 52,4 persen responden, kata Ramli, memberikan nilai C dan menganggap kreativitas Kemendikbud di semester pertama biasa-biasa saja. Namun, ada 19 persen yang menganggap sudah baik, dan 6,5 persen menyatakan kreativitas Kemendikbud sangat baik.

    Khusus terkait Inovasi, 47,9 persen responden juga masih menilai biasa saja. Lalu, 18,2 persen menganggap belum inovatif, dan 5,1 persen lainnya menganggap inovasi Kemendikbud buruk. Namun, ada 22 persen responden yang menganggap Kemendikbud sudah inovatif, dan ada 6,8 persen menganggap sangat inovatif.

    "Secara keseluruhan tampak bahwa guru-guru Indonesia yang tersebar di 34 provinsi masih memberikan nilai C buat semester pertama Kemendikbud dipimpin oleh Nadiem Makarim dan menganggapnya biasa-biasa saja, padahal harapan publik ke Nadiem Makarim atas menularnya sukses beliau di Gojek ke Kemendikbud sangat tinggi," cetus Ramli.

    Survei IGI dilakukan terhadap 336 responden dari kalangan guru. Survei yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ini digelar oada 18-19 Mei 2020

    Metodenya, IGI memilih 380 guru pada usia 25-60 tahun yang tersebar pada 34 Provinsi di Indonesia. IGI mengajukan enam pertanyaan seputar 4C yang harus dijawab responden terkait satu semester Kemendikbud di tangan Nadiem Makarim.

    Survei ditutup pada Selasa, 19 Mei 2020, pukul 19.00 WIB. Ada 336 yang memberikan respon, dan 44 lainnya tidak. IGI menggunakan google formulir dan konfirmasi bisa melalui WhatsApp.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id