Kelola Reward dan Punishment, Penting Bagi Penguatan Karakter Anak

    Citra Larasati - 19 September 2020 08:08 WIB
    Kelola Reward dan Punishment, Penting Bagi Penguatan Karakter Anak
    Siswa PAUD sedang belajar sambil bermain. Foto: MI/Susanto
    Jakarta:  Mengelola reward dan punishment yang berimbang dan konsisten ternyata memberikan dampak pada pembentukan karakter dan pendidikan anak.  Namun sayangnya, banyak orang tua yang abai dalam mengelola keduanya.

    Psikolog Anak dan Sekolah Global Sevilla, Alva Paramitha mengatakan, bahwa reward tidak harus dalam bentuk barang yang bernilai tinggi.  Memberikan pujian atas sebuah capaian yang dilakukan anak juga dapat menjadi salah satu bentuk penghargaan yang dapat diberikan orang tua kepada anak. 

    Meski terkesan sepele, namun pujian dapat meningkatkan rasa percaya diri pada anak.  "Berikan pujian dengan tepat ketika anak berhasil melakukan capaian, ini bisa meningkatkan rasa percaya diri," kata Alva Paramitha, saat webinar Conscious Parenting: Pola Asuh Orang Tua Dalam Tumbuh Kembang Anak Usia Dini di Masa Pandemi.

    Pujian maupun kata-kata positif yang diberikan kepada anak juga harus disampaikan secara tulus.  "Kita libatkan unsur hati saat kita berikan pujian," terangnya.

    Baca juga:  Draf Standar Baru PJJ, Tugas Siswa Bakal Lebih Banyak

    Tak hanya penghargaan, dalam mendidik anak, orang tua juga tidak dilarang untuk memberikan hukuman (punishment) atau konsekuensi jika anak melakukan kesalahan.  

    Alva mengatakan, guru dan orang tua harus kompak dalam memberikan reward dan punishment kepada anak.  "Kalau konsekuensi atau hukuman ini diberlakukan di sekolah, maka harus berkesinambungan juga di rumah," terang Alva.

    Konsistensi ini meski terlihat sederhana, namun memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter dan pendidikan anak.  "Saat anak sudah terbiasa menerima konsekuensi (hukuman) ketika tidak menyelesaikan tugas misalnya. Lakukan juga itu di rumah. Konsekuensi itu harus berkesinambungan dan konsisten dilakukan guru dan orang tua," tegas Alva.

    Alva menambahkan, sejatinya orang tua merupakan observer yang baik terhadap anak-anaknya. Oleh karena itu, pola pengembangan anak dapat disesuaikan dengan karakter dari masing-masing anak.  Orang tua, kata Alva, harus memahami bahwa setiap anak tidak dapat diperlukan secara sama.

    Dicontohkan, ada anak yang dapat memahami dengan dinasihati saja, namun, ada juga anak-anak yang harus dinasihati dengan contoh-contoh, atau bahkan ada juga anak yang harus mengalami sendiri, sebagai proses belajarnya.

    "Jadi kunci utamanya adalah pahami karakter anak ketika akan berikan reward dan konsekuensi (hukuman). Konsep parenting itu utamanya ada di kita," terangnya

    Hukuman atau konsekuensi juga harus diberikan sesuai porsi dan kebutuhan sang anak. "Karena konsekuensi itu tujuannya adalah untuk penguatan perilaku," pungkas Alva.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id