comscore

Dhawy, Mahasiswi Tunanetra UNAIR Ini Hasilkan 3 Novel Dalam Setahun

Citra Larasati - 12 Februari 2022 15:39 WIB
Dhawy, Mahasiswi Tunanetra UNAIR Ini Hasilkan 3 Novel Dalam Setahun
Mahasiswa Unair, Huriyah Dhawy Febrianti (tengah) menghasilkan tiga novel dalam setahun. Foto: Dok. Unair
Jakarta:  Ingin mematahkan stigma remaja kaum rebahan dan mengisi waktu luang, Huriyah Dhawy Febrianti aktif mengasah kemampuan menulis, khususnya novel. Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) memang produktif, ia bahkan berhasil menerbitkan tiga novel dalam setahun. 

Mahasiswa yang akrab disapa Dhawy tersebut sebenarnya sudah lama ingin menulis novel. Baru pada 2019 keinginannya itu terealisasi. Sebelumnya, ia terbiasa menulis puisi. Bahkan ia berhasil menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi sejak 2017.
“Aku mencoba untuk keluar dari zona nyamanku. Ikut parade menulis novel, menantang diri sendiri, ternyata setelah dijalani seru juga,” ungkap Dhawy.

Sampaikan Isu Sosial 

Dhawy selalu berusaha menyuarakan isu sosial dalam novel karyanya. Meski demikian, ia tetap menuliskannya dengan bahasa yang ringan dan jenaka. Dalam Novel pertamanya, Keterpurukan Kedua, Dhawy mengangkat tema emotional issues dan mental issues yang sering terjadi pada remaja. 

“Pergaulan remaja itu kan sangat kental dengan bullying. Dalam novelku, aku membahas tentang bagaimana seorang teman harusnya bersikap dan menjadikan remaja itu diterima, bukan di-bully,” katanya.

Masih membahas kehidupan remaja, Dhawy mengangkat tema kehidupan berorganisasi pada novel keduanya, Creative Life, Creative Project. Mahasiswa yang juga aktif berorganisasi di luar kampus itu mengakui bahwa pengalaman selama berorganisasi tidak selalu baik. Terkadang seseorang mengalami penolakan dalam organisasi tersebut.

“Sebagai penulis aku ingin menyuarakan dan mengembangkan suka dukanya berorganisasi. Tidak selalu dari pengalamanku, tapi juga dari cerita teman dan pengalaman orang,” tuturnya.

Karya terbarunya yang berjudul Real Child vs Childish membahas family issues. Dhawy tertarik mengangkat isu tersebut karena masih banyaknya orang tua sering membandingkan anak-anaknya satu sama lain. 

Satu Bulan

Mengikuti parade menulis membuat Dhawy harus menyelesaikan novel-novelnya dalam kurun waktu 30 hari. Setiap hari, Dhawy harus menyetorkan minimal satu bab. Awalnya, hal tersebut membuatnya hampir menyerah dan menangis setiap malam. 

“Sehari engga setor bakal didiskualifikasi. Aku pernah setiap 5 menit sekali ketiduran dan selalu dibangunin mama. Bahkan, aku hampir mau menarik naskah, tetapi mama selalu kasih dukungan ke aku untuk enggak menyerah dan meyakinkan kalau aku bisa,” kenangnya.

Baca juga:  Mahasiswa FTUI Sabet 2 Penghargaan Nasional di Kompetisi Rekayasa Kualitas

Mahasiswa yang juga aktif menyanyi itu mengaku sempat kehabisan ide dalam menyelesaikan novelnya. Menonton film dan membaca buku jenaka menjadi beberapa cara mengatasi hal itu. 

“Semua buku aku tersedia di Google Playbook. Untuk buku fisiknya sendiri bisa pesan ke aku langsung,” tuturnya.

Pada akhir, Dhawy berpesan anak muda mesti mengeluarkan keresahannya. Keresahan yang mungkin dianggap remeh mungkin akan berdampak luar biasa jika mampu kita kelola dengan baik.

“Kita juga perlu berteman dengan insecurity yang dirasakan. Senyumin aja, diterima dan disadari. Jangan jadikan alasan sebagai penghenti langkah kita,” tuturnya. 

(CEU)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id