Unej Tanggapi Soal Ribuan Mahasiswanya Terpapar Radikalisme

    Antara - 27 November 2019 12:21 WIB
    Unej Tanggapi Soal Ribuan Mahasiswanya Terpapar Radikalisme
    Mahasiswa baru Unej. Foto: Unej/Dok. Humas
    Jember:  Universitas Jember angkat bicara terkait pemberitaan ribuan mahasiswanya atau 22 persen dari 15.567 mahasiswnya yang terpapar radikalisme.  Data tersebut diungkapkan Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas
    Jember (Unej) pada akhir 2017 hingga awal 2018.

    Ketua Tim Pemetaan Pemikiran Keagamaan di Pusat Pengembangan Pendidikan Karakter dan
    Ideologi Kebangsaan (P3KIK) LP3M Unej, Akhmad Munir memaparkan hasil pemetaan radikalisme di kalangan mahasiswa Universitas Jember (Unej) dalam konferensi pers yang digelar Unej di aula Lantai 2 Gedung Rektorat Unej, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa, 26 November 2019.

    "Pemetaan itu dilakukan dalam rangka mendeteksi dini dan melihat sejauh mana potensi benih-benih pandangan radikalisme mahasiswa di Unej dan pemetaan tersebut dilakukan pada tahun
    2017, sehingga bukan data baru," katanya di Kampus Unej.

    Universitas Jember menggelar konferensi pers karena maraknya pemberitaan hasil penelitian yang disampaikan Ketua LP3M Unej Dr Akhmad Taufiq saat Festival HAM pada 20 November 2019.  Dalam penelitian tersebut menyebutkan, sebanyak 22 persen dari 15.567 mahasiswa Unej terpapar radikalisme.

    Namun BNPT justru menyebutkan tren mahasiswa Unej yang terpapar radikalisme meningkat dibandingkan data tersebut.    Menurutnya hasil pemetaan mahasiswa terpapar radikalisme yang disampaikan Ketua LP3M Unej sudah benar, namun data tersebut bersifat internal dan khusus untuk lembaga Unej demi perbaikan kelembagaan dalam perspektif kampus kebangsaan.

    Sehingga seharusnya tidak disampaikan kepada publik dan hasil pemetaan tersebut sudah ditindaklanjuti ke dalam sejumlah agenda.  "Di antaranya rekonstruksi pengembangan kurikulum mata kuliah pendidikan agama Islam yang berorientasi pada keseimbangan perspektif keislaman dan kebangsaaan seperti tema teologi kebangsaan, demokrasi dan HAM dalam Islam, dan sebagainya," tuturnya.

    Selain itu, lanjut dia, dilakukan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dengan melibatkan organisasi Islam yang berprinsip moderat, kemudian pembinaan dan penataan masjid kampus, serta laboratorium pesantren dengan membina langsung mahasiswa oleh para kiai berpaham ahlussunnah wal jamaah.

    "Ditambah lagi konseling keislaman oleh dosen-dosen pendidikan agama Islam dengan tujuan agar mahasiswa memegang prinsip moderatisme Islam karena LP3M merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan agenda tersebut," ucapnya.

    Munir menjelaskan, studi pemetaan tersebut dilakukan berdasarkan nama, alamat, nomor induk mahasiswa (NIM), dan fakultas.  Sehingga tidak dimaksudkan untuk melakukan generalisasi populasi di seluruh mahasiswa Unej karena pemetaan tersebut dilakukan untuk mendeteksi diri benih-benih keagamaan keIslaman di kampus Unej dan mencegah potensi itu berkembang
    lebih jauh.

    Sementara itu, Kepala Humas Unej Agung Purwanto mengatakan, pemberitaan yang menyebutkan 22 persen mahasiswa Unej terpapar radikalisme berdampak pada kelembagaan kampus.  Bahkan banyak orang tua mahasiswa Unej yang khawatir anaknya terpapar radikalisme.

    "Penelitian itu tujuan utamanya ingin mengetahui pemikiran mahasiswa yang terindikasi awal
    benih-benih radikalisme, sehingga bukan berarti 22 persen mahasiswa Unej terpapar atau sudah memiliki pandangan radikal, sama sekali bukan," katanya.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id