Program Organisasi Penggerak

    Beda Suara di Internal Muhammadiyah Terkait POP

    Arga sumantri - 30 Juli 2020 07:26 WIB
    Beda Suara di Internal Muhammadiyah Terkait POP
    Ilustrasi. Kantor PP Muhammadiyah. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra
    Jakarta: Internal pengurus Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah belum satu suara terkait keikutsertaan dalam Program Organisasi Penggerak (POP). Ada yang menyatakan tetap mundur, namun ada pula yang meminta dirundingkan kembali soal keputusan ikut atau tidak dalam program yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu.

    Mulanya, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah Kasiyarno tegas menyatakan tetap mundur dari POP kendati sudah ada permintaan maaf dari Mendikbud Nadiem Makarim. Permintaan maaf Nadiem memang diterima. Tapi, kata dia, sengkarut POP sudah terlalu pelik. 

    Menurut Kasiyarno, keputusan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah angkat kaki bukan semata lantaran dua lembaga filantropi, yakni Yayasan Putera Sampoerna Foundation (PSF) dan Tanoto Foundation, ada di dalam POP. Namun, banyak organisasi lain yang dinilai bermasalah, tapi terpilih dalam program tersebut.

    "Banyak organisasi penggerak lain yang kelihatannya bermasalah. Bukan hanya itu, program-program yang ditawarkan mereka (Kemendikbud) tampaknya tidak relevan. Jadi kita tetap berkomitmen tidak ikutan di situ (POP)," terang Kasiyarno, Rabu, 29 Juli 2020.

    Namun, pernyataan Kasiyarno dianggap hanya pendapat pribadi oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti. Keputusan untuk mundur atau tetap terlibat dalam POP masih harus dirundingkan.

    Baca: Nadiem Masih Berharap NU, Muhammadiyah, dan PGRI Gabung POP

    Pernyataan Mu'ti ini disampaikan usai bertemu Nadiem di kantor PP Muhammadiyah. Nadiem datang untuk meminta maaf langsung kepada Muhammadiyah terkait polemik POP.

    "Belum ada keputusan. Pernyataan Pak Kasiyarno personal, dan kami apresiasi itu," ucap Mu'ti dalam Primetalk Metro TV, Rabu malam, 29 Juli 2020. 

    Menurut Mu'ti, PP Muhammadiyah akan menggelar rapat bersama dengan Majelis Dikdasmen Muhammadiyah serta Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Muhammadiyah. Pihaknya akan mengkaji dan mengevaluasi sebelum memutuskan perihal keikutsertaan dalam POP.

    PP Muhammadiyah jadi organisasi yang pertama kali mengumumkan menarik diri dari POP. Langkah itu kemudian diikuti Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

    Sikap ketiga organisasi besar itu memantik polemik POP hingga akhirnya banyak pemangku kepentingan di bidang pendidikan buka suara. Dari banyak suara yang menyeruak, rata-rata meminta program yang dianggarkan senilai Rp595 miliar itu dikaji ulang.

    Mendikbud Nadiem Makarim memastikan POP bakal dievaluasi dengan melibatkan banyak pihak. Nadiem juga meminta maaf atas polemik POP dan berjanji menyempurnakannya.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id