MPR: Membuka Sekolah di Semua Zona Bukan Langkah Bijaksana

    Citra Larasati - 28 Juli 2020 16:03 WIB
    MPR: Membuka Sekolah di Semua Zona Bukan Langkah Bijaksana
    ilustrasi. Foto: MI/Aries Munandar
    Jakarta:  Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat menilai perlu langkah komprehensif dan kehati-hatian yang tinggi untuk mengambil kebijakan pelonggaran di sektor pendidikan. Sebab saat ini tren penyebaran covid-19 di dunia dan Tanah Air justru tengah mengalami peningkatan.

    Hingga Senin, 27 Juli 2020, angka kasus positif covid-19 di Tanah Air telah menembus angka 100 ribu, atau mencapai 100.303 orang.  "Berpikir untuk membuka sekolah untuk belajar tatap muka di luar zona hijau saat ini, bukan sebuah langkah yang bijaksana. Mempertimbangkan berbagai aspek secara komperhensif dan penuh kehati-hatian sangat dibutuhkan dalam mengambil keputusan di masa pandemi ini," kata Lestari Moerdijat atau yang akrab disapa Rerie ini dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 28 Juli 2020.

    Saat ini, jelas Rerie, sejumlah negara di dunia memasuki gelombang kedua penyebaran covid-19, sedangkan di Indonesia jumlah positif virus covid setiap hari terus bertambah.  Pernyataan Rerie itu menyikapi rencana pemerintah untuk membuka sekolah di luar zona hijau untuk proses belajar tatap muka.

    Baca juga:  Pembukaan Sekolah di Semua Zona Langgar SKB Empat Menteri

    Hal itu disampaikan Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo seusai rapat dengan Presiden Jokowi, Senin, 27 Juli 2020.

    Menurut Rerie, risiko yang harus ditanggung peserta didik dan guru di luar zona hijau, dalam menyelenggarakan proses belajar mengajar tatap muka sangat tinggi.  Di saat penyebaran covid-19 terus meningkat, tegas Legislator Partai NasDem itu, seharusnya pemerintah mengedepankan faktor keselamatan peserta didik dan guru dalam mengambil kebijakan.

    Langkah terobosan untuk wilayah-wilayah yang belum bisa menerapkan pendidikan jarak jauh (PJJ) harus segera dilakukan, dengan tetap menempatkan keselamatan peserta didik dan guru sebagai dasar pertimbangan yang utama.  Meski begitu, Rerie mengungkapkan, saat ini anak-anak yang berada daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) serta siswa dari keluarga prasejahtera merupakan kelompok rentan yang berpotensi terhambat proses belajarnya di masa pandemi ini.

    "Akses kepemilikan gawai dan internet tetap menjadi kendala para siswa di daerah 3T dan keluarga prasejahtera dalam pembelajaran daring," ujarnya. 

    Sejumlah daerah yang masuk kategori 3T, kata Rerie, membutuhkan intervensi pemerintah yang segera agar peserta didik tidak tertinggal pencapaian pendidikannya dengan daerah lain.
    Sepuluh tahun lalu, tambahnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika sempat menyalurkan mobil internet ke daerah-daerah yang masih terkendala dengan jaringan internet.

    Langkah terobosan serupa, menurut Rerie, bisa segera direalisasikan pemerintah dengan mengajak swasta ikut serta.  Demikian juga dengan kebijakan mensubsidi kuota internet untuk pendidikan.

    Kebijakan tersebut bisa diterapkan dengan tujuan agar penyelenggaraan PJJ tidak menggerus daya beli masyarakat.  "Perlu langkah-langkah terobosan yang strategis dan segera agar generasi penerus bangsa terlindungi dari paparan virus dan tidak terkendala dalam menuntut ilmu di masa pandemi covid-19," pungkasnya.

    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id