LIPI: Tambak Dipasena Bisa Ulangi Masa Kejayaannya

    Ilham Pratama Putra - 03 Desember 2019 15:48 WIB
    LIPI: Tambak Dipasena Bisa Ulangi Masa Kejayaannya
    Tambak petani plasma Bumi Dipasena, Kabupaten Tulangbawang Lampung, terbengkalai karena rencana revitalisasi. Foto: MI/Ramdani
    Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berpendapat, Tambak Udang Dipasena di Tulang Bawang, Lampung bisa menjadi pemasukan negara yang menjanjikan. Hal ini bisa terwujud sepanjang revitalisasi dilakukan dengan baik.

    “Tidak hanya petambak yang diuntungkan tetapi seluruh bangsa ini,” ujar Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho di Jakarta, Selasa, 3 Desember 2019.

    Agus bahkan meyakini, tambak udang Dipasena akan beroperasi optimal dan bangkit menjadi produsen udang terbesar. Sama seperti masa kejayaannya di 1990. 

    Dalam catatan LIPI, tambak Dipasena mampu memproduksi 200 ton udang per hari. Dan menyumbang devisa negara hingga mencapai USD3 juta.

    Sayangnya, krisis ekonomi serta bangunan relasi plasma-inti yang sangat timpang telah menumbangkan produktivitas tambak pada ujung pemerintahan Orde baru. Salah satu cara mengembalikan itu semua adalah dengan revitalisasi melalui skema budidaya.

    Peneliti Utama LIPI, Dedi Adhuri menjelaskan, beberapa strategi revitalisasi meliputi rehabilitasi lingkungan dan infastruktur tambak. Hingga harus ada pengaliran arus listrik untuk rumah tangga serta perbaikan jalan poros Tulang Bawang-Rawajitu, juga penyediaan air bersih untuk rumah tangga.

    ”Hasilnya berpengaruh pada peningkatan produksi budidaya,” ungkap Dedi.

    Dampak perbaikan itu tak hanya berpengaruh pada panen udang. Namun juga mampu menunjang ekonomi rakyat dari jalan yang telah diperbaiki.

    LIPI menyebut, pada perbaikan jalan poros Tulang Bawang-Rawajitu akan menurunkan biaya transportasi mencapai 4,96%. Biaya transportasi tersebut memiliki kontribusi 21,30% dari total biaya tambak. 

    “Secara umum terjadi efisiensi biaya jika menggunakan listrik dari PLN adalah sebesar 31,79% atau Rp3,9 juta Perbedaan tersebut relatif besar karena rumah tangga tidak perlu menanggung biaya bahan bakar dan perawatan genset,” terang Dedi.

    Pihaknya meminta pemerintah untuk tak salah mengambil langkah. Jika ada kesalahan, maka produktivitas tambak Dipasena tinggal mimpi belaka.

    “Alih-alih memperbaiki kondisi usaha perbaikan, itu justru berujung pada pemutusan hubungan inti plasma, berbuntut sengketa hutang-piutang dan pemutusan aliran listrik di Dipasena pada awal 2011,” pungkasnya.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id