'Pilot Drone' Peluang Profesi Baru di Era 4.0

    Intan Yunelia - 17 Januari 2020 18:15 WIB
    'Pilot Drone' Peluang Profesi Baru di Era 4.0
    Ilustrasi. Foto: UGM/Dok.Humas
    Jakarta:  Era disrupsi teknologi akan menghadapkan lulusan siswa sekolah menengah dengan pekerjaan yang berbeda dengan situasi saat ini.  Tidak sedikit jenis pekerjaan yang hilang di masa depan, namun juga memunculkan jenis pekerjaan baru.

    Berbagai jenis pekerjaan baru bermunculan di era revolusi industri 4.0, salah satunya pilot pesawat tanpa awak atau drone.  Ke depan, profesi pilot drone sangat dibutuhkan dalam industri pertahanan.

    Belum banyak saat ini lembaga pendidikan yang khusus mencetak pilot-pilot drone.  BPPT dan PT DI, serta LAPAN dan TNI misalnya, dalam konsorsium teknologi pertahanan, berkoordinasi dengan Kemenristek/BRIN mengembangkan drone Elang Hitam Indonesia untuk bidang pertahanan.

    "Tapi drone hanyalah drone yang memerlukan pengendali/pilot (dari ruangan kontrol).  Oleh sebab itu tentu saja kalian bisa mendaftar menjadi pilot drone di masa depan," kata Bambang di JIS Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis, 16 Januari 2020.

    Selain menjadi pilot drone, para siswa nanti juga diperkirakan bisa menjadi pembuat konten untuk realitas virtual. Hal itu bisa dikuasai dengan memiliki keilmuan dasar di Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics (STEAM) yang dipelajari sejak jenjang SMP.

    Untuk bisa menjadi content creator virtual reality yang baik, kata Bambang, tidak bisa hanya menjadi ahli matematika, fisikawan, ahli kimia.  Siswa juga perlu kreatif, perlu mengerti apa yang orang-orang mau, serta selalu mencermati teknologi yang berkembang.

    "Setiap kelompok usia, akan punya keinginan berbeda dalam menggunakan VR (virtual reality). Anda perlu bisa menerjemahkan preferensi orang-orang menjadi konten, dan untuk itulah Anda perlu art," ujar Bambang.

    Ia juga berharap sekolah negeri dan sekolah swasta Indonesia mampu membuat konsep STEAM. Di mana terdapat satu ruangan interaktif yang dapat menunjukkan kemajuan teknologi kemudian siswa dapat membedah purnarupa teknologi dari berbagai jenis bidang STEAM.

    Bambang juga menjelaskan pentingnya unsur seni dan kreativitas dalam proses belajar berbasis STEAM ini.  Seni mendorong daya nalar kreativitas siswa.

    "Kami melihat upaya memasukkan art/seni ini adalah untuk mendorong kreativitas, karena science, technology, engineering, mathmatics menunjukkan penguatan background maupun kemampuan dasar, tapi untuk berbuat sesuatu, mereka butuh kreativitas," pungkasnya.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id