KPAI Minta Disdik Periksa Oknum Guru di Kasus 'Ketua OSIS Seagama'

    Ilham Pratama Putra - 29 Oktober 2020 16:17 WIB
    KPAI Minta Disdik Periksa Oknum Guru di Kasus 'Ketua OSIS Seagama'
    ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani
    Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan percakapan di dalam grup WhatsApp salah satu SMA Negeri yang berisikan ajakan untuk memilih ketua OSIS yang seagama. KPAI meminta Dinas Pendidikan dan sekolah mencari dan menindak oknum guru yang mengirimkan pesan dengan nada rasis tersebut di WhatsApp Group (WAG) yang diberi nama 'Rohis 58'.

    "Jika yang bersangkutan terbukti melakukan pelanggaran, maka Disdik Provinsi DKI Jakarta harus bertindak tegas agar ada efek jera sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti dalam keterangannya, Rabu, 28 Oktober 2020.

    Selanjutnya, dia juga meminta agar Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan pemeriksaan/BAP terhadap guru yang bersangkutan. Pihaknya juga ingin Disdik DKI kemudian memberikan program pelatihan bagi para guru dan kepala sekolah tentang isu nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, persatuan dan penghargaan atas keragaman dan Hak Asasi Manusia (HAM). 

    "Pelatihan ini bertujuan agar para guru dapat menyemai keragaman dan dan menjadi role model bagi para siswanya untuk menghargai keragaman dan dapat hidup damai dalam perbedaan. Peran guru dalam menyemai keberagaman dan menghargai perbedaan di sekolah sangat strategis," jelasnya.

    Baca juga:  KPAI: Imbauan Guru Pilih Ketua OSIS Seagama Menggerus Nilai Keragaman

    Nantinya guru yang telah dilatih harus diukur tingkat kemampuan implementasi terkait toleransi mereka. Hasil survey akan menentukan intervensi seperti apa yang harus dilakukan pemerintah, dalam menguatkan nilai-nilai persatuan dan keragaman di sekolah-sekolah.

    Selain itu, para siswa pun diminta untuk menjadi pelopor jika menemui, menyaksikan atau mengalami diskriminasi di lingkungan sekolah dan masyarakat. Pelaporan dapat dilakukan melakukan sistem pengaduan di sekolah, Disdik, atau bisa juga melalui pengaduan KPAI. 

    "KPAI mendorong pihak sekolah untuk melakukan refleksi atas peristiwa ini dan sekolah wajib melindungi anak yang diduga mengirimkan screenshoot itu melalui media sosial sehingga menyebar. Sekolah justru harus mengapresiasi anak tersebut, bukan menekan apalagi mengacam siswa yang bersangkutan," tegas Retno.

    Ramainya permasalahan ini dimulai dari percakapan seseorang guru berinisial TS (56) dalam grup WhatsApp ‘Rohis 58’. Guru Agama Islam dan Budi Pekerti itu meminta agar anggota grup ‘Rohis 58’ tidak memilih calon Ketua Osis yang beragama nonmuslim.

    Dalam tangkapan layar itu TS menuliskan pesan agar para siswa berhati-hati dalam memilih calon ketua OSIS. TS ingin ketua OSIS di SMA tersebut memilki akidah yang sama dengan anggota grup WhatsApp 'Rohis 58'.

    “Assalamualaikum, hati-hati memilih ketua OSIS Paslon 1 dan 2 Calon nonislam. Jadi tetap walau bagaimanapun kita mayoritas harus punya ketua yang se-aqidah dengan kita. Mohon doa dan dukungannya untuk Paslon 3, Mohon doa dan dukungannya utk Paslon 3, Awas Rohis jangan ada yang jadi pengkhianat ya," lapor salah seorang dalam grup 'Rohis 58' kepada pihak KPAI.


    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id