comscore

Guru Besar IPB Terpilih Sebagai Ketua Komisi Kepatuhan Pengelolaan Tuna IOTC

Renatha Swasty - 27 Mei 2022 20:34 WIB
Guru Besar IPB Terpilih Sebagai Ketua Komisi Kepatuhan Pengelolaan Tuna IOTC
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Indra Jaya. DOK IPB
Jakarta: Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Indra Jaya didaulat sebagai Ketua Komisi Kepatuhan Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) periode 2022-2024. IOTC merupakan salah satu organisasi antar pemerintah yang bertanggung jawab atas pengelolaan tuna dan spesies sejenis tuna di Samudera Hindia.
 
“IOTC mengatur bagaimana pengelolaan perikanan tuna yang baik agar stok tuna di Samudera Hindia tetap sehat dan berkelanjutan," kata Indra dalam keterangan tertulis, Jumat, 27 Mei 2022.

Dia menjelaskan tugas Komisi Kepatuhan ialah memastikan penangkapan ikan di wilayah ini dilakukan berdasarkan instrumen internasional. Khususnya terkait tata kelola perikanan di laut lepas dan kesepakatan-kesepakatan (resolusi) bersama antar negara penangkap tuna.
Tugas lainnya, menelaah semua aspek kepatuhan dari negara-negara penangkap ikan tuna di Samudera Hindia. Aspek kepatuhan tersebut berdasarkan kebijakan dan program konservasi dan pengelolaan yang ditetapkan oleh IOTC.

Komisi kepatuhan juga bertugas mengidentifikasi dan mendiskusikan masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan program konservasi dan pengelolaan yang efektif. Tim komisi juga membuat rekomendasi bagaimana menangani permasalahan-permasalahan yang ada.

Semua negara yang tergabung dalam keanggotaan IOTC akan dinilai tingkat kepatuhannya oleh komisi ini. “Berdasarkan laporan yang dilakukan setiap negara, Komisi Kepatuhan akan memberikan penilaian dengan tiga kriteria, Patuh, Separuh Patuh, dan Tidak Patuh. Laporan ini transparan dan bisa diakses siapa saja di laman resmi IOTC,” tutur dia.
 
Indra menyebut penilaian bertujuan agar setiap negara dapat mengetahui aspek apa saja yang masih perlu dibenahi atau ditingkatkan dalam mendukung perikanan tuna yang berkelanjutan. Informasi tentang hasil evaluasi dari tingkat kepatuhan ini dapat dijadikan kesempatan untuk saling belajar dan mengoreksi satu sama lain.

Dia mengatakan negara yang belum memenuhi aspek tertentu dari kepatuhan bisa belajar kepada negara lain bagaimana mencapai tingkat kepatuhan yang tinggi. IOTC juga memiliki Komisi Ilmiah (Scientific Commission) dan Komisi Administratif dan Keuangan (Administrative and Finance Commission).

“Jika diibaratkan, Komisi Kepatuhan ini ibarat wasit dalam permainan. Kami bertugas memantau aktivitas penangkap ikan dan memberi peringatan jika terjadi pelanggaran,” kata Indra.
 
Indra berharap semua negara anggota dapat mematuhi aturan yang diterapkan IOTC. Sehingga, tidak ada lagi aktivitas penangkapan ikan yang melanggar (ilegal) dan tidak terlaporkan.
 
“Tugas saya adalah mendorong semua negara anggota untuk patuh memenuhi kesepakatan-kesepakatan bersama. Kita juga berkomitmen terhadap negara anggota yang membutuhkan bantuan. Kita akan kirimkan staf ahli jika suatu negara memerlukan peningkatan sumber daya manusia (SDM), misalnya untuk membantu pembentukan sistem pemantauan, pendataan, analisis dan pelaporan kegiatan penangkapan,” papar dia.  

Indra berharap Indonesia ke depan lebih proaktif menjadi pemain besar dalam perikanan tuna. Selain punya modal dasar laut yang luas, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia nelayan yang cakap dan tangguh di laut.
 
“Peluang Indonesia untuk menguasai perikanan tuna global sangat besar. Tidak hanya di Samudera Hindia, tapi di tujuh Samudera yang ada. Semestinya negara kita lebih proaktif untuk melihat dan membuka peluang perikanan yang ada di laut lepas, di luar laut teritorial sendiri,” ujar dia.
 
Indra Jaya juga merupakan salah satu dosen IPB University yang aktif menciptakan banyak inovasi dalam bidang perikanan. Salah satunya, TREKfish, sebuah alat untuk menelusuri jejak operasi penangkapan ikan. Aktivitas kapal penangkap ikan dapat diketahui secara jelas dengan TREKfish.
 
“Inovasi ini penting agar kita bisa mengetahui posisi kapal penangkap ikan dan apakah penangkapan ikan masih berada di dalam atau sudah di luar teritorial kita. Sehingga nanti ketahuan, legal atau tidaknya operasi penangkapan ikan dilakukan kapal tersebut,” tutur Indra.

Sebelum menjadi ketua, Indra telah terlibat dalam kegiatan IOTC sejak 2012 sebagai salah satu anggota delegasi Republik Indonesia (DELRI). Selama 10 tahun Indra pernah menjabat sebagai Wakil Ketua hingga akhirnya terpilih sebagai Ketua Komisi Kepatuhan pada Annual Meeting IOTC 2022 di Seychelles.

Baca: Dosen FPIK IPB Sarankan BEDI Sebagai Alat Ukur Keberhasilan Blue Economy
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id