FSGI: Nadiem Harus Jadi 'Murid' yang Cepat Belajar

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 10 Januari 2020 12:43 WIB
    FSGI:  Nadiem Harus Jadi 'Murid' yang Cepat Belajar
    Mendikbud, Nadiem Makarim. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
    Jakarta:  Federasi Serikat Guru Indonesia ( FSGI) meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera mengakselerasi diri dan program.   Nadiem dinilai lambat bergerak di 100 hari pertama kerjanya ini, meskipun sejak dilantik menteri termuda di Kabinet Indonesia Maju ini memang telah menyatakan niatnya untuk belajar dan mendalami persoalan pendidikan.

    "Nadiem harusnya lari cepat. Ini saya lihat larinya kurang cepat, berlari cepat. Kan dia bilang jadi murid dulu, tapi saya harap Nadiem jadi murid yang cepat belajar.  Harusnya cepat," kata
    Wasekjen FSGI, Satriwan Salim kepada Medcom.id di Jakarta, Jumat 10 Januari 2020.

    Satriwan mengakui, mantan Bos Gojek ini memang sudah mengeluarkan empat kebijakan 'Merdeka Belajar' di masa 100 harinya.  Namun, yang menjadi sorotan FSGI setelah kebijakan itu belum terlihat strategi turunannya.

    "Belum mengakselerasi diri dan kebijakan, kami masih menunggu-nunggu, gaungnya sudah empat Merdeka Belajar, tapi strategi turunannya belum muncul, guru belum disentuh, bagaimana mau menyiapkan AKM (Asesmen Kompetensi Minimum).  Karena itu (AKM) akan dihadapi anak-anak pada 2021.  Model PISA (Programme for International Student Assessment)? Bahkan banyak guru dan siswa yang masih enggak tahu apa itu PISA," ujarnya.

    Sementara itu terkait Asesmen Kompetensi Minimum yang disebut akan menggantikan Ujian Nasional (UN) ini, Satriwan berharap Nadiem segera menjelaskan detailnya.  Terutama untuk yang sekarang duduk di kelas III SD, VII SMP dan X SMA. 

    Sebab mereka inilah yang pada 2021 akan naik kelas IV, VIII, dan XI kemudian mulai melaksanakan Asesmen Kompetensi Minimum.  "Jadi anak-anak mempertanyakan, anak kelas X AKM untuk mereka, kelas XI senang enggak dapat UN, AKM juga tidak jelas. Sampaikan kepada orang tua dan murid, khususnya nasib mereka di kelas XII," terangnya.

    Selain itu, Satriwan juga menyinggung soal cetak biru pendidikan yang bakal digarap Kemendikbud.  Menurutnya itu juga masih serba belum jelas bentuknya seperti apa.

    Ditambah lagi, kata Satriwan, organisasi guru sampai sekarang belum dilibatkan untuk pembahasannya.   Menurutnya, Nadiem juga belum menyentuh persoalan kualitas Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang merupakan "pabrik guru".

    "Padahal bicara soal kompetensi, harusnya Nadiem juga bicara soal guru itu jebolan mana dan bagaimana kualitas LPTK-nya.  Mas Menteri belum menyentuh LPTK, kalau ngomongin guru pasti harus ngomongin LTPK , mas Menteri belum menyentuh kedua-duanya. Contoh, ada produk makanan rotinya jelek jangan salahkan toko penjual, tapi pabriknya dong," pungkas Satriwan.



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id