comscore

Mengenal Peminatan Teknologi Asistif dan Rehabilitasi Medika di ITS, Bidang Ilmu untuk Bantu Aktivitas Disabilitas

Renatha Swasty - 24 Mei 2022 16:18 WIB
Mengenal Peminatan Teknologi Asistif dan Rehabilitasi Medika di ITS, Bidang Ilmu untuk Bantu Aktivitas Disabilitas
Kursi roda elektrik untuk disabilitas karya mahasiswa Departemen Teknik Biomedik ITS. DOK ITS
Jakarta: Peminatan Teknologi Asistif dan Rehabilitasi Medika merupakan satu dari empat bidang peminatan unggulan di Departemen Teknik Biomedik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Bidang ilmu ini berfokus pada teknologi medis yang mampu menunjang aktivitas penyandang disabilitas.

Peminatan Teknologi Asistif dan Rehabilitasi Medika merupakan perpaduan antara pengetahuan dasar dalam dunia medis dan robotika. Hal ini bertujuan mengembalikan kondisi tubuh manusia disabilitas ke kondisi normal. 
“Walau tak dapat kembali ke kondisi normal sepenuhnya, pasien diharapkan mampu menjalankan fungsi pokok sehari-harinya meski terbatas,” kata Kepala Departemen Teknik Biomedik ITS Achmad Arifin dikutip dari its.ac.id, Selasa, 24 Mei 2022. 

Arifin menjelaskan pada peminatan ini mahasiswa akan belajar memahami ciri pokok kondisi tubuh normal dan kondisi disabilitas manusia. Mahasiswa juga akan belajar tentang teknologi sensor dan penerapannya untuk subjek disabilitas. 

“Kondisi disabilitas setiap subjek berbeda-beda, sehingga dibutuhkan teknologi yang mampu menyesuaikan fungsinya di segala kondisi,” ucap dia.

Arifin menuturkan rehabilitasi medika dan teknologi asistif cukup berbeda, namun keduanya saling menunjang. Rehabilitasi medika berfokus pada pengembangan teknologi yang membantu pelatihan rehabilitasi medis pasien, sedangkan teknologi asistif berfokus pada teknologi yang mampu membantu mobilisasi pasien disabilitas. 

“Umumnya pasien membutuhkan alat yang mampu mendukung mobilitasnya pasca rehabilitasi,” kata dia. 

Arifin menjelaskan terdapat dua tahapan rehabilitasi, khususnya rehabilitasi motorik pasien.  Tahapan pertama, menggunakan functional electrical stimulation (FES). Pada tahap ini, pasien dengan disabilitas motorik akibat kerusakan otak akan mendapat stimulasi listrik pada otot dan saraf. 

“Electrical stimulation berpotensi meringankan kerusakan motorik seseorang,” ujar alumnus Departemen Teknik Elektro ITS ini.

Setelah kondisi saraf dan otot pasien membaik, maka perlu melalui tahap rehabilitasi yang berfokus melatih mekanik sendi agar pergerakan tubuh lebih presisi. Grup riset yang mengembangkan inovasi ini ialah robotic rehabilitation. 

Dalam rehabilitasi ini, pasien dengan disabilitas motorik dilatih melakukan gerakan berulang dengan bantuan alat-alat eksoskeleton robotik. Arifin menyebut Departemen Teknik Biomedik ITS memiliki dua grup riset yang masing-masing mendalami ilmu functional electrical stimulation dan robotic rehabilitation. 

Tak hanya itu, terdapat dua laboratorium yang juga mendukung pembelajaran di bidang ini, yaitu Laboratorium Instrumentasi dan Pengolahan Sinyal Biomedik serta Laboratorium Biocybernetics. 

“Inovasi yang diteliti tidak dapat diujicobakan langsung ke subjek disabilitas melainkan harus diuji ke manusia normal dahulu,” tutur dia. 

Arifin menyebut pihaknya bekerja sama dengan Tohoku University dalam pengujian teknologi untuk pasien disabilitas. Dia berharap baik mahasiswa maupun dosen yang menggeluti bidang ini dapat terus memperkaya ilmu dan berkontribusi aktif di dunia biomedik. 

“Harapannya ITS dapat terus berperan aktif dalam meningkatkan teknologi-teknologi kesehatan di Indonesia,” tutur dia. 

Baca: Inovasi Mahasiswa ITS, Deteksi Serangan Jantung Koroner Pakai Rompi
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id