Pengamat: Indonesia Idealnya Punya Empat Model Sekolah

    Ilham Pratama Putra - 25 Juni 2020 20:27 WIB
    Pengamat: Indonesia Idealnya Punya Empat Model Sekolah
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta: Pengamat Pendidikan dari Center of Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji menyebut Indonesia idealnya memiliki empat model sekolah guna mendorong dunia pendidikan yang berkeadilan. Model pertama, sekolah negeri yang 100 persen dibiayai pemerintah.

    "Dan diperuntukkan bagi masyarakat yang kekurangan dari segi finansial," ujar Indra dalam konferensi video, Kamis, 25 Juni 2020.

    Menurut dia, model pembiayaan 100 persen ini bisa membuat dana hibah Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Operasional Penyelenggara (BOP) pendidikan direalokasi untuk kebutuhan lain. Dengan begitu, sekolah negeri berada dalam bentuk unit satuan kerja (Satker) pemerintah.

    "Karena kalau sekarang tidak ada keadilan, banyak sekolah yang siswanya banyak itu mereka bingung habiskan anggarannya, karena BOS atau BOP dihitung per siswa. Sementara yang siswanya sedikit itu anggarannya bisa kurang," jelas dia.

    Baca: Sekolah Swasta Sering Dianggap Bawahan Pemerintah

    Apabila sekolah dalam bentuk Satker, kata dia, dapat dipetakan kebutuhannya. "Kalau satu sekolah butuhnya sekian miliar berikan sekian miliar. Tidak dihitung per siswa," terang Indra.

    Kemudian, model sekolah swasta dengan isi siswa segmentasi ekonomi menengah ke atas. Sekolah swasta model ini diberi hak untuk mengelola kurikulum secara mandiri.

    "Tata kelolanya, gurunya seperti apa, laporannya seperti apa, diatur sendiri. Biarkan sekolah swasta ini berkembang bebas. Yang terpenting ideologinya Pancasila, ada perlindungan anak dan perlindungan konsumen," sambungnya.

    Model ketiga yakni charter school atau sekolah charter. Sekolah ini mirip dengan swasta namun pendanaannya ditanggung pemerintah. Charter school juga harus mendapat BOS.

    "Sekolah charter ini sekolah yang dibangun masyarakat di daerah terpencil seperti pesantren dan sebagainya. Daripada pemerintah bangun sekolah baru, lebih baik sekolah yang sudah dibangun bertahun-tahun ini dibantu untuk hidup," kata dia.

    Model terakhir yakni home schooling. Sekolah ini dibentuk untuk anak yang tidak bisa datang ke sekolah formal. "Misalnya untuk atlet atau artis. Tetapi sekolah ini mengacu pada sekolah negeri atau swasta pembelajarannya," tutup Indra.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id