Peneliti Diminta Fokus Garap Paten yang Potensial

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 27 November 2019 13:37 WIB
    Peneliti Diminta Fokus Garap Paten yang Potensial
    Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek/BRIN Muhammad Dimyati. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
    Depok: Paten menjadi hal yang penting bagi seorang peneliti, karena bisa melindungi hasil penelitian dengan memiliki hak eksklusif.  Peneliti didorong untuk fokus pada paten yang produktif dan berpotensi dimanfaatkan oleh industri. 

    Kesadaran pentingnya mematenkan penelitian mulai terbangun beberapa tahun terakhir. Terlihat dari paten yang terdaftar di World Intellectual Property Organization (WIPO) pada 2018 sebanyak 2.842 paten.  Namun sayangnya, jumlah paten terbanyak di Asia Tenggara tersebut banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, utamanya industri.

    Alhasil, paten-paten tersebut tidak dilirik oleh pelaku industri, dan paten hanya sekadar menjadi paten.  Untuk itu Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional menilai lebih baik para peneliti fokus membuat paten yang dibutuhkan oleh pelaku industri sehingga berpotensi untuk dilisensikan atau dikontrak.

    "Kita berharap sebetulnya tidak perlu banyak-banyak paten. Tetapi betul-betul produktif saja, yang memungkinkan dilakukan lisensi saja yang digarap," kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek/BRIN Muhammad Dimyati, di Universitas Indonesia, Depok, Rabu, 27 November 2019.

    Akan tetapi Dimyati menyebut, hal tersebut tidaklah mudah. Peneliti perlu bekerja sama dengan industri, sehingga patennya bisa mempunyai potensi dikontrak.  "Misal merencanakan  dari awal melibatkan industri dan memungkinkan bisa dimanfaatkan oleh industri," ujarnya.

    Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menyebut, saat ini ada gap antara jumlah paten peneliti Indonesia yang terdaftar di WIPO (World Intellectual Property Organization) atau Organisasi Hak atas Kekayaan Intelektual Dunia Indonesia sudah mencapai 2.842 paten dengan lisensi dari industri.

    "Dari data itu, seperti ada gap yang sangat besar.  Antara jumlah paten yang didaftarkan dengan (penggunaan) lisensi paten tersebut," kata Bambang di Grand Sahid, Jakarta Pusat, Senin, 25 November 2019.

    Padahal dari paten tersebut peneliti bisa mendapatkan pemasukan dari royalti atas penggunaan lisensi patennya. Selain itu paten harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar agar ada yang menggunakan lisensi.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id