UGM Luncurkan 'Film Beta Mau Jumpa'

    Ilham Pratama Putra - 27 Januari 2020 21:23 WIB
    UGM Luncurkan 'Film Beta Mau Jumpa'
    Foto: UGM/Humas
    Jakarta:  Selama 21 tahun pascakonflik Ambon yang menelan ribuan jiwa, perempuan dan anak muda menggalang perdamaian dan merajut kembali hubungan antara umat nasrani dan muslim yang sempat mengalami segregasi.

    Kisah ini dikemas dalam sebuah film yang dirancang bagi para pendidik, jurnalis, pengambil kebijakan, serta masyarakat pada umumnya.  Melalui kolaborasi antara Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM, the Pardee School of Global Studies Boston University, dan WatchdoC Documentary dengan dukungan dari Henry Luce Foundation New York.

    “Film ini mengingatkan kita bahwa perdamaian tidak terjadi dalam waktu semalam. Dibutuhkan usaha dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkannya,” ucap Diah Kusumaningrum, Kepala Prodi S1 Hubungan Internasional UGM dikutip dari laman UGM, Senin, 27 Januari 2020.

    Sejak hari pertama konflik Ambon merebak, lanjut Diah, telah ada upaya perdamaian di antara warga.  Film ini memunculkan cerita-cerita dari beberapa perempuan yang menggambarkan relasi mereka yang begitu dekat dengan tetangga mereka yang memiliki keyakinan berbeda.

    “Tanggal 19 Januari 1999 diingat kebanyakan orang sebagai awal dari peristiwa konflik di Ambon. Tapi sebenarnya sejak hari itu juga warga Islam dan Kristen saling merengkuh satu dengan lainnya. Pada masa itu, warga yang beragama Islam menyembunyikan tetangga mereka yang Kristen untuk melindungi mereka agar tidak diserang, begitu juga sebaliknya,” paparnya.

    Kisah para perempuan yang ditampilkan di dalam film 'Beta Mau Jumpa' menunjukkan adanya rasa saling percaya yang telah lama terbangun di antara warga.  Sehingga mereka terbiasa untuk menitipkan kunci rumah kepada tetangga mereka yang berbeda kepercayaan ketika mereka pulang ke kampung halaman.

    Begitu juga para ibu akan menjaga anak dari tetangga mereka ketika sang orang tua harus bekerja hingga larut malam.  “Ketika seorang anak dititipkan, berarti tetangganya tersebut tidak hanya menjaga tetapi juga memberi makan. Jadi, ada ingatan dalam benak mereka, bahwa mereka bisa hidup hingga sekarang karena kebaikan tetangga mereka yang nasrani atau muslim itu,” kata Diah.

    Sejarah panjang kehidupan bersama para warga terlepas dari kepercayaan mereka menciptakan apa yang ia sebut sebagai memori perdamaian.  Ini menjadi bekal bagi upaya rekonsiliasi pascaberakhirnya konflik.

    Memori perdamaian itulah, menurutnya, yang menjadikan Ambon berbeda dengan konflik yang terjadi, misalnya di Sri Lanka atau Irlandia Utara.  Memori ini perlu diciptakan untuk memupuk perdamaian di tengah masyarakat dengan berbagai perbedaan yang dimiliki.

    “Memori perdamaian adalah sesuatu yang harus dibuat di masa kini agar itu bisa terus diingat di masa depan,” ucapnya.

    Film berdurasi 35 menit ini merupakan film kedua dari seri Indonesian Pluralities yang mengangkat beragam kisah tentang Indonesia. Film pertama berjudul 'Atas Nama Percaya' yang mengangkat kisah dua komunitas penghayat kepercayaan dan pengalaman diskriminasi yang mereka alami telah dirilis pada tahun lalu dan bisa disaksikan melalui Youtube



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id