comscore

Mengenal Siklus Fosfor, Satu-satunya Unsur Kimia yang Tak Ada di Atmosfer

Medcom - 22 April 2022 19:08 WIB
Mengenal Siklus Fosfor, Satu-satunya Unsur Kimia yang Tak Ada di Atmosfer
Ilustrasi belajar. Medcom.
Jakarta: Atmosfer bumi terdiri dari kumpulan gas yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Namun, rupanya ada unsur kimia yang sama sekali tak ditemukan di atmosfer. Unsur tersebut adalah fosfor.

Meski nihil di atmosfer, bukan berarti unsur ini tidak penting bagi kehidupan manusia. Justru sebaliknya, fosfor berperan sebagai penunjang proses evolusi makhluk hidup, di mana digunakan dalam pembuatan DNA dan RNA.
Untuk mengenal unsur ini lebih lanjut, simak pembahasan berikut yang dikutip dari Zenius.

Apa itu fosfor?

Fosfor atau Phosphorus merupakan unsur berlambang P dalam tata nama senyawa kimia dan memiliki nomor atom 15. Karena tak ada di atmosfer, fosfor mustahil ditemukan dalam bentuk unsur bebas.

Unsur ini banyak ditemui di batuan litosfer, hidrosfer, dan biosfer, lebih tepatnya batuan atau mineral di dalam tanah. Sebagian besar keberadaan fosfor terkunci di dalam mineral tertentu. Alhasil, unsur berlampang P itu menjadi yang paling sedikit di bumi dan terbilang langka.

Keberadaan fosfor sendiri tidak serta-merta ditemukan begitu saja, melainkan harus diolah dengan cara memecah batuan mineral terlebih dahulu. Inilah sebabnya siklus fosfor lebih lambat dibandingkan siklus lain.

Peranan fosfor bagi kehidupan

Fosfor berperan sebagai penunjang proses evolusi makhluk hidup. Lebih tepatnya, terdapat dalam gugus fosfat yang merupakan pembentuk DNA dan RNA.

Tak kalah penting, unsur ini juga dibutuhkan untuk membuat Adenosine triphosphate (ATP) dalam sel makhluk hidup, tepatnya pada mitokondria. Ini merupakan bentuk vital penyimpanan energi dalam sel atau transfer energi.

Fosfor juga dibutuhkan dalam membuat membran sel. Bahkan, hewan membutuhkan unsur ini sebagai penyokong tulang dan giginya.

Tak hanya makhluk hidup, fosfor berperan penting bagi proses ekologis. Unsur ini akan memupuk bakteri fotosintetik dan ganggang yang berfungsi menghasilkan oksigen.

Siklus fosfor

Tak seperti siklus nitrogen yang melibatkan banyak organisme, hanya ada sedikit organisme yang terlibat dalam siklus fosfor. Yakni pengurai batu yang termasuk bakteri litotrof.

Awal mula siklus fosfor berasal dari batuan litosfer. Selanjutnya, batuan tersebut akan mengalami erosi, baik disebabkan air hujan maupun pelapukan oleh lumut.

Ketika batuan mengalami erosi dan terbawa aliran air, akar tanaman bakal menyerap air tersebut melalui proses asimilasi. Tanaman pun mengandung fosfor guna menunjang pertumbuhan dan kehidupannya.

Kemudian, tanaman tersebut dimakan hewan herbivora (pemakan tumbuhan) dan manusia. Sehingga, fosfor akan berada di dalam tubuh hewan dan manusia untuk menunjang kehidupannya.

Sedangkan, tumbuhan yang mati atau jatuh ke tanah akan diuraikan organisme dekomposer, seperti jamur dan bakteri. Sehingga, dekomposer itu mengandung fosfor.

Dengan begitu, tanah pun mengandung fosfor yang lantas akan diserap lagi oleh akar tanaman dan dimakan hewan. Namun, ada juga sebagian lain yang terbawa aliran air menuju badan air atau perairan.

Di badan air, terdapat organisme yang juga membutuhkan fosfor untuk menunjang kehidupannya. Ketika organisme tersebut mati, maka akan melalui proses dekomposisi.

Kemudian, air tersebut bakal mengendap ke dasar perairan atau biasa disebut sedimentasi. Lambat laun, sedimentasi itu menghasilkan batuan sedimentasi, sehingga siklus fosfor kembali lagi ke awal.

Aktivitas manusia dalam menunjang ketersediaan fosfor

Meski secara alami tidak ditemukan di atmosfer, ternyata ada cara lain untuk menunjang ketersediaan fosfor. Misalnya, dengan menggunakan pupuk NPK guna membantu pertumbuhan tanaman.

Pupuk tersebut akan tetap berada di permukaan tanah. Ketika turun hujan, pupuk yang mengandung fosfor tersebut akan larut dalam air dan bersama-sama menuju badan air.

Sayangnya, bila pupuk yang diberikan terlalu banyak, kehidupan organisme di perairan bisa terancam. Sebab, pupuk akan merangsang pertumbuhan alga yang notabene dapat menghalangi sinar matahari masuk ke perairan.

Karena terhalang, tumbuhan perairan tak mampu berfotosintesis, sehingga oksigen pun tidak bisa dihasilkan. Keberadaan oksigen yang menipis dapat menyebabkan kematian organisme aerob, termasuk ikan. (Nurisma Rahmatika)

Baca: Mengapa Gempa Bumi Bisa Terjadi? Ini 4 Penyebabnya!
 

(REN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id