Epidemiolog UGM: PSBB Ketat Tetap Perlu Diiringi 3M

    Citra Larasati - 07 Januari 2021 15:58 WIB
    Epidemiolog UGM: PSBB Ketat Tetap Perlu Diiringi 3M
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta:  Pemerintah berencana menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat untuk sejumlah wilayah/kota di Jawa dan Bali mulai 11-25 Januari 2021. Kebijakan tersebut diputuskan berdasarkan rapat terbatas di Kantor Presiden sebagai bagian dari upaya pengendalian kasus covid-19 yang masih tinggi di Indonesia.

    Menurut epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, sudah selayaknya pemerintah mengeluarkan kebijakan tersebut, mengingat tingginya angka kasus aktif covid-19 di Indonesia akhir-akhir ini. Belum lagi tingginya angka keterisian tempat tidur di rumah sakit/ fasilitas kesehatan serta tingginya angka kematian yang terjadi.

    “Faktor utamanya adalah mobilitas warga saat libur akhir tahun kemarin ditambah banyak daerah tidak berhasil melakukan penanganan covid-19, sehingga kasusnya menjadi naik dan dikhawatirkan jika tidak direm maka keterisian RS akan mendekati 100 persen dan ini akan semakin menyusahkan masyarakat yang membutuhkan perawatan di RS dan naiknya angka kematian," ujar Bayu dalam keterangannya, Kamis, 7 Januari 2021.

    Sementara soal merebaknya varian baru covid-19, Bayu merasa tidak yakin sebagai alasan melakukan PSBB ketat. Menurutnya, hingga saat ini belum ditemukan varian baru tersebut ada di Indonesia.

    Baca juga:  PSBB Jawa-Bali, Sekolah Kembali Digelar Daring

    Bahkan, Lembaga Eijkman dan pusat-pusat penelitian lain masih terus melakukan kajian terhadap Genome sequencing untuk melihat apakah kasus di sekitar November-Desember ada varian baru dari Inggris atau tidak.

    “Jadi, untuk saat ini kita tidak bisa bilang varian baru SARS-COV-2 dari Inggris sebagai penyebab naiknya angka kasus di Indonesia," ucapnya.

    Untuk menekan tingginya angka penularan, kata Bayu, selain melakukan PSBB ketat sebaiknya ditingkatkan kemampuan tracing daerah yaitu kemampuan melakukan tes karena salah satu sumber untuk pengetesan adalah hasil contact tracing dari kasus. Dari upaya ini maka dapat dilihat apakah daerah sudah memenuhi standar WHO untuk minimum pengetesan yaitu 1 tes setiap 1.000 orang per minggu dan positivity rate di bawah 5 persen.
     



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id