Bela Negara Bisa Disisipkan di Kegiatan Ekstra Mahasiswa

    Intan Yunelia - 12 November 2019 18:20 WIB
    Bela Negara Bisa Disisipkan di Kegiatan Ekstra Mahasiswa
    Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ismunandar. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
    Jakarta: Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Ismunandar mengatakan, implementasi "wajib militer" bagi mahasiswa untuk sementara bisa disisipkan di kegiatan ekstrakurikuler. Sebelum ada regulasi khusus yang benar-benar mewajibkan pelatihan ala militer wajib diterapkan di kampus.

    Meski begitu, Ismunandar mengatakan, Kemendikbud menyambut positif wacana yang disampaikan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto tersebut. “Mahasiswa memang harus memiliki rasa cinta Tanah Air, namun dalam pelaksanaan penanamannya bisa berupa kegiatan kokurikuler dan ekstra kurikuler (kemahasiswaan),” kata Ismunandar saat dihubungi Medcom.id, Selasa, 12 November 2019.

    Penerapan bela negara sebelum ada regulasi khusus, semestinya cukup di kegiatan ekstra mahasiswa. Pun sejauh ini sudah ada beberapa unit kegiatan mahasiswa yang memberikan pelatihan ala militer. 

    “Bisa berupa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) , Organ (Menwa), kepramukaan, dan lainnya,” ujar Ismunandar.

    Ia mengakui, bahwa saat ini Kemendikbud belum memiliki regulasi khusus yang mewajibkan mahasiswa melakukan pelatihan dalam konsep ala militer. Ia belum tahu apakah wajib militer yang dimaksud Prabowo adalah sama halnya seperti di Singapura dan Korea Selatan. 

    “Regulasi yang secara khusus mewajibkan wajib militer bagi mahasiswa belum ada. Yang ada adalah undang undang dasar maupun undang undang pertahanan negara yang mewajibkan setiap warga negara untuk membela negara,” tuturnya.

    Sebelumnya, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ingin Indonesia memiliki komponen cadangan pertahanan. Salah satu caranya dengan melibatkan mahasiswa mulai dari strata satu (S1), dua (S2), dan 3 (S3) dalam aksi bela negara.

    "Tentunya harus diikutsertakan dalam kompetensi cadangan. Itu menyangkut pembentukan kekuatan cadangan kita yang akan mengandalkan kekuatan rakyat," kata Prabowo di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin, 11 November 2019.

    Untuk diketahui, ada enam negara Asia yang menerapkan wajib militer bagi warga berusia produktif. Pertama, Korea Selatan yang mewajibkan laki-laki berusia 18-35 tahun untuk mengikuti wajib militer dengan masa tugas 21 bulan.

    Kedua, Korea Utara menerapkan wajib militer bagi laki-laki dan perempuan berusia 17 tahun. Masa tugasnya bervariasi, untuk laki-laki selama 10 tahun dan perempuan tujuh tahun.

    Ketiga, Tiongkok yang menerapkan wajib militer bagi pria berusia antara 18-22 tahun dengan masa tugas 24 bulan atau dua tahun.  Terakhir, berasal dari negara Asia Tenggara, yakni Thailand, Singapura, dan Laos.

    Thailand mewajibkan pria berusia 21-27 tahun untuk mengikuti wajib militer selama 22 hingga 24 bulan. Singapura menerapkan wajib militer selama 24 bulan untuk pria berusia 18 tahun. Dan Laos menerapkan wajib militer bagi pria berusia 18 tahun dengan masa tugas 18 bulan.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id