Pakar UGM: Judicial Review Cara Tepat Menguji UU Ciptaker

    Ilham Pratama Putra - 07 Oktober 2020 21:25 WIB
    Pakar UGM: <i>Judicial Review</i> Cara Tepat Menguji UU Ciptaker
    Ilustrasi. Medcom.id
    Jakarta: Pakar hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar mengatakan judicial review atau uji materi jadi cara tepat bagi pihak yang menolak Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) bisa jadi ajang pengujian regulasi yang baru disahkan DPR itu.

    "Saya membayangkan judicial review jadi jalan pas. Karena judicial review menjadi ajang pengujian," kata Zainal dalam konferensi pers daring, Rabu, 7 Okotber 2020.

    Menurut Zainal, UU Cipta Kerja memang memiliki banyak masalah sejak proses pembahasannya. Aturan-aturan yang diatur dalam UU tersebut dianggap bertentangan dengan peraturan perundang-undangan lain.

    "Sehingga, judicial review dapat menjadi metode paling tepat untuk mengoreksi UU Cipta Kerja," tambah dia.

    Menurut dia, cara lain yang bisa dilakukan untuk menggugat UU Cipta Kerja yakni lewat tekanan publik. Namun, harus tetap sesuai konstitusi dan menyesuaikan masa pandemi virus korona (covid-19).

    "Harus dilakukan tindakan lain, tekanan publik. Apa pun pilihan tekanan publik, sepanjang tidak melanggar hukum dan protokol kesehatan," ucap Zainal.

    Baca: UU Ciptaker Dinilai Mengarahkan Pendidikan Menuju Sistem Liberal

    Pengesahan UU Cipta Kerja jadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Pro kontra UU dengan konsep omnibus law itu menyeruak di beragam ruang publik. Respons cukup keras datang dari kalangan buruh. UU Cipta Kerja, khususnya klaster ketenagakerjaan, dinilai tak berpihak pada kaum pekerja.

    Masuknya sektor pendidikan dalam omnibus law UU Cipta Kerja juga memicu keterkejutan pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Mereka merasa dikelabui, lantaran sebelum UU Ciptaker disahkan, telah ada pernyataan jika klaster pendidikan ditarik dari pembahasan omnibus law tersebut.

    Sektor pendidikan termuat dalam klaster Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Tepatnya, Bagian Keempat tentang Penyederhanaan Perizinan Berusaha Sektor Serta Kemudahan dan Persyaratan Investasi. Aturan yang ada lebih kepada urusan perizinan pendidikan yang termuat dalam Pasal 26 dan 65.

    (AGA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id