Pakar UGM: Penyemprotan Disinfektan di Jalan Tak Perlu

    Ilham Pratama Putra - 01 April 2020 10:01 WIB
    Pakar UGM:  Penyemprotan Disinfektan di Jalan Tak Perlu
    Ilustrasi. Kendaraan taktis Polresta Sidoarjo melakukan penyemprotan disinfektan massal di jalan protokol kawasan Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. Antara Foto/Umarul Faruq
    Jakarta: Koordinator Tim Respons Covid-19 Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad, menyoroti maraknya penyemprotan disinfektan di jalan atau tempat terbuka. Ia menilai pola itu tak tepat lantaran penyemprotan disinfektan seharusnya hanya dilakukan pada benda mati yang banyak disentuh orang.

    "Perlu disinfektan, tapi tidak sampai di jalan atau di tempat terbuka," kata Riris mengutip laman UGM, Rabu, 1 April 2020.

    Warga di sejumlah permukiman juga mengambil inisiatif melakukan penyemprotan disinfektan untuk mencegah penyebaran virus korona (covid-19). Namun, ia menilai ada pola penyemprotan yang keliru dan tak efektif.

    "Misalnya penyemprotan disinfektan di lingkungan, disinfektan tubuh," ujarnya.

    Baca: PPI Dunia Bentuk Satgas Covid-19 Asia Oseania

    Riris mengakui, inisiatif masyarakat tersebut memang punya tujuan baik. Namun, improvisasi ini justru meningkatkan risiko penularan pada masyarakat.

    Sejumlah desa yang melakukan karantina wilayah atau lockdown skala kecil juga menjadi sorotan. Kebijakan ini justru dianggap memiliki risiko, sebab posko pengawasan acap kali  ditempati banyak orang.

    "Lockdown yang dilakukan sendiri oleh masyarakat dengan mendirikan posko yang dijaga oleh sejumlah orang justru menimbulkan risiko tersendiri karena menjadi lokasi berkumpul," lanjut Riris.

    Karantina wilayah parsial juga bisa meningkatkan kecurigaan terhadap orang yang tidak dikenal. Apabila tidak hati-hati, bisa memicu terjadinya kekerasan sosial. "Ini perlu diwaspadai karena jika sering terjadi situasi menjadi tidak kondusif," ucap Riris.

    Riris menegaskan langkah paling tepat memutus mata rantai penularan korona yaitu menjaga jarak sosial (social distancing), dan menerapkan pola hidup bersih. Masyarakat juga diminta mengikuti arahan pemerintah.

    Riris memprediksi puncak outbreak covid-19 di setiap wilayah Indonesia tidak bersamaan, melainkan bergantian. Ia pun menyarankan pemerintah menjaga agar tidak muncul kasus korona di daerah yang belum mengalami outbreak.

    "Karena ada perpindahan orang-orang dari wilayah yang sudah terjadi outbreak," jelas Riris.

    Pakar UGM itu mencatat penyebaran covid-19 paling banyak terjadi di Jakarta. Makanya, perlu ada kebijakan larangan mudik agar virus berbahaya itu tak merajalela di daerah lain.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id