Dosen ITB Paparkan Solusi Banjir Jakarta

    Intan Yunelia - 08 Januari 2020 14:28 WIB
    Dosen ITB Paparkan Solusi Banjir Jakarta
    Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Heri Andreas. Foto: ITB/Humas
    Jakarta:  Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) meneliti penyebab banjir di Jakarta yang terjadi beberapa waktu lalu.  Dari temuannya, selain curah hujan yang tinggi juga disebabkan terjadinya penurunan tanah.

    Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Heri Andreas mengatakan, setiap tahunnya penurunan tanah di Jabodetabek bisa mencapai 1 hingga 10 sentimeter.  "Jika suatu daerah terjadi penurunan tanah maka akan terjadi cekungan.  Cekungan itu yang akan menyebabkan banjir," kata Heri dikutip dari laman ITB, Rabu, 8 Januari 2020.

    Ia memaparkan, terdapat sejumlah faktor yang memperparah proses penurunan tanah.  Di antaranya karena tanah turun secara alamiah akibat eksploitasi air tanah, beban infrastruktur, faktor tektonik, dan adanya eksploitasi minyak dan gas bumi, serta tambang di bawah permukaan.

    "Yang paling dominan kalau kasusnya di Jakarta adalah eksploitasi air tanah, dan beban infrastruktur dan urugan," ujar Heri.

    Ia mengakui, saat ini banyak teknologi yang dapat mengurangi proses penurunan tanah.  Salah satunya dengan melakukan substitusi air tanah dengan air permukaan.

    Kemudian dengan teknologi water recycling, mengolah air limbah dan pembuatan air laut menjadi air tanah.  "Di Indonesia teknologi tersebut belum diprogramkan secara masif, hanya pada skala kecil saja," papar Heri.

    Heri menjelaskan, penurunan tanah bisa diukur melalui satelit ataupun GPS bahkan sampai tingkat akurasi milimeter. Namun demikian, penurunan tersebut tidak akan terasa, karena terjadi perlahan.

    Mengenai hal tersebut, pemerintah seharusnya sudah memiliki data sehingga dapat menerapkan kebijakan yang tepat dalam mengantisipasi kejadian banjir yang diakibatkan penurunan tanah tersebut.

    Menurut Heri, untuk solusi dari banjir di Jakarta harus dikaji dari berbagai aspek.  Pertama yaitu sumber datangnya air.  Harus dipastikan apakah dari hujan deras yang terjadi di wilayah Jakarta, atau kiriman dari daerah hulu.

    "Kasus di Jakarta kemarin, karena curah hujan yang ekstrem, belum lagi di daerah Bogor hujannya besar," jelas Heri.

    Sementara itu di sisi lain, daya tampung air sungai, waduk, atau kolam retensi tidak cukup untuk menampung debit air saat hujan lebat tiba. Oleh karenanya, normalisasi maupun naturalisasi sungai menjadi salah satu upaya yang dapat ditempuh Pemprov DKI Jakarta untuk menambah daya tampung air.

    “Kemudian daya serap dan aliran air di tanah juga berpengaruh.  Problem lainnya adalah relokasi warga yang bertahan hidup di bantaran sungai.  Itu juga sangat sulit karena harus ganti rugi lahan dan lain sebagainya," tuturnya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id