Dosen ITS, Guru Besar Aljabar Max Plus Pertama di Indonesia

    Intan Yunelia - 10 Desember 2019 17:25 WIB
    Dosen ITS, Guru Besar Aljabar Max Plus Pertama di Indonesia
    Prof Dr Subiono MSc menjelaskan tentang penerapan ilmu Aljabar Max Plus pada jadwal moda transportasi di Surabaya. Foto: ITS/Humas
    Jakarta:  Dosen Departemen Matematika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Subiono MSc berhasil menjadi guru besar pertama Indonesia di bidang ilmu Aljabar Max Plus. Penelitian ini diusung dalam orasi ilmiahnya sebagai Guru Besar ke-121 ITS.

    Dengan permodelan Aljabar Max Plus ini, Subiono mampu menyelesaikan ketidakteraturan sistem transportasi yang sering dikeluhkan para pengguna. Aljabar Max Plus sendiri merupakan pengembangan dari bidang ilmu Aljabar yang berkaitan dengan Sistem Dinamik Event Diskrit (SKED).

    Sistem tersebut banyak muncul dalam dunia industri untuk menganalisa dan mengontrol sistem-sistem kompleks.  Seperti halnya dalam sistem kontrol trafik ataupun sistem logistik.

    Dalam hal ini, Subiono mengampu tugas membuat model Aljabar Max Plus untuk sistem dari semua jenis kereta api yang beroperasi di Belanda. “Hasilnya adalah mengenai jadwal yang regular dan stabil terhadap keterlambatan kereta yang ditentukan oleh lintasan kritis,” kata Subiono dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Selasa, 10 Desember 2019.

    Alumni Delft University of Netherlands ini menerangkan, lintasan kritis tersebut adalah waktu tempuh perjalanan yang paling lama dari sebuah sistem transportasi, sehingga disebut sebagai lintasan maksimum. Sebaliknya, waktu tempuh perjalanan yang paling cepat dalam sistem transportasi yaitu lintasan minimum juga menjadi aspek yang diperhatikan.

    “Kedua lintasan tersebut penting untuk menata ulang penempatan kendaraan yang beroperasi tanpa harus menambah kuantitasnya,” ujar Subiono.

    Menurutnya, penelitian ini mengacu pada sistem kompleks dalam sistem kontrol trafik, aplikasi Aljabar Max Plus juga dapat digunakan dalam sistem pengaturan lalu lintas bandara dan penentuan kapasitas landasan pacu. Dari simulasi perhitungan Aljabar Max Plus, dapat diperoleh waktu yang diperlukan tiap pesawat untuk bergerak dalam masing-masing posisinya di landasan pacu.

    Sehingga dari waktu tersebut dapat diketahui berapa kapasitas landasan pacu bandara sebagai batas maksimum pergerakan pesawat dalam tiap jamnya. “Ini dapat menjadi penyelesaian dalam situasi di mana pesawat yang kehabisan bahan bakar dapat mendarat lebih dahulu dalam kondisi landasan pacu yang ramai,” terangnya.

    Dosen pengampu Laboratorium Analisis Aljabar dan Pembelajaran Matematika Departemen Matematika ITS ini menjelaskan, Simulasi model Aljabar Max Plus juga bisa digunakan dalam penentuan waktu tempuh aliran distribusi bahan bakar minyak.

    Menurutnya, butuh waktu yang efisien agar tidak terjadi keterlambatan pengiriman logistik bahan bakar minyak yang dapat menimbulkan terjadinya kelangkaan.  “Sistem ini telah diterapkan pada pendistribusian yang dilakukan oleh PT. Pertamina daerah Jawa Timur sampai dengan Bali,” tandasnya.

    Pemerintah juga saat ini telah menerapkan kebijakan terkait dengan perkeretaapian, yakni pembangunan jalur kereta api double track. Dengan menggunakan Aljabar Max Plus sebagai alat pemodelannya, menurut Subiono, sebenarnya masih dapat dioptimalkan penggunaan jalur kereta api single track.

    Yakni dengan menambahkan persimpangan di tengah-tengah jalurnya yang dapat disebut dengan jalur kereta api semi-double track (SDT).

    Penelitian terkait dengan SDT telah dilakukan pembicara utama International Conference on Applied and Industrial Mathematics and Statistics tersebut pada jalur kereta api Waru-Sidoarjo. Dengan menganalisis sifat keperiodikan sistem berdasarkan hasil simulasi model Aljabar Max Plus, diperlukan waktu 32 menit bagi kereta api untuk berjalan pada siklus berikutnya dari keberangkatan sebelumnya yang berjalan searah dari masing-masing stasiun.

    Selain itu, dari perhitungan tersebut juga dapat diketahui, bahwa 17 kereta api berjalan dari Waru menuju Sidoarjo dan 17 kereta api berjalan pada arah sebaliknya. Sehingga, pertemuan kereta api yang berjalan berlawanan arah selalu berada di stasiun.

    “Hal ini menandakan bahwa tidak terjadi tabrakan antara kereta api yang berjalan dari arah masing-masing stasiun tersebut,” imbuhnya.

    Ia mengungkapkan, bahwa sistem penjadwalan yang mampu mengatur lalu lintas moda transportasi ini dapat memberikan keuntungan dalam hal efisiensi waktu mobilitas penggunanya. “Selain itu, dari sisi penyedia moda transportasi juga diuntungkan dengan minimalisasi biaya operasional yang dibutuhkan,” pungkasnya.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE

    MORE
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id