Limbah Beton Bekas Disulap Jadi Bahan Beton Baru

    Daviq Umar Al Faruq - 24 Februari 2020 13:20 WIB
    Limbah Beton Bekas Disulap Jadi Bahan Beton Baru
    Tiga mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pendaur ulang beton bekas reruntuhan bangunan. Foto:Dok.Humas UMM
    Malang:  Tiga mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menemukan cara yang ramah lingkungan untuk memproduksi beton.  Yakni dengan menyulap bekas reruntuhan bangunan beton menjadi bahan dasar untuk membuat beton baru.

    Ketiga mahasiswa itu antara lain, Nurman Handitya Prima, Muhammad Irfan Maulana, dan Oval Mufarid.  Temuan ini untuk menjawab persoalan terbatasnya ketersediaan sumber daya alam yang menjadi bahan dasar dalam konstruksi.

    "Jika konstruksi di Indonesia terus dilakukan tanpa adanya alternatif baru, suatu saat akan merusak perut bumi," kata Nurman Handitya, salah satu anggota tim.

    Dengan mendaur ulang, beton dapat digunakan kembali dengan memanfatkan limbah material bekas konstruksi beton sebagai subtitusi 100 persen dari total kebutuhan agregat.  Limbah beton bekas yang tak terpakai tersebut dihancurkan kembali untuk menghasilkan agregat kasar dan juga agregat halus.

    “Di sini kami menghancurkannya dengan cara manual, yaitu palu. Kemudian disaring sesuai ukuran saringan. Material yang tertinggal menjadi agregat kasar pengganti krikil yang lolos akan dihancurkan menggunakan mesin Los Angeles hingga seperti pasir dan disaring lagi menjadi agregat halus,” imbuhnya.

    Hasil dari beton daur ulang tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata. Dalam hasil uji abrasi, beton daur ulang ini memiliki tingkat keausan yang sama dengan krikil Kulon Progo.

    Bahkan, ditemukan nilai keausan sebesar 23,5 persen, sehingga masih dalam nilai keausan yang diizinkan untuk beton kelas III yaitu di bawah 27 persen berdasarkan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI).

    “Kita membuat inovasi, akan tetapi tidak mengurangi durabilitas dari beton tersebut. Apa yang kita pakai harus sesuai dengan standar yang berlaku. Harus sesuai dengan batas-batas yang diujikan. Sehingga tidak hanya menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) saja, namun juga Standar Industri Indonesia (SII), American Society for Testing and Materials (ASTM) dan PB juga kita uji,” tutur Nurman.

    Berkat inovasi tersebut, Nurman dan kawan-kawan mampu lolos dalam seleksi abstrak lomba karya tulis nasional Civil Festival 2020 di Politeknik Negeri Jakarta. Hebatnya, para mahasiswa UMM ini menjadi satu-satunya perwakilan Universitas Swasta.

    Selanjutnya mereka akan menyerahkan full paper dan mempresentasikan inovasinya tersebut pada 11 Maret mendatang.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id