Jadi Ilmuwan di Jerman, Terima Kasih Pernah 'Ditolak' Kedokteran UGM

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 20 Agustus 2019 07:07 WIB
    Jadi Ilmuwan di Jerman, Terima Kasih Pernah 'Ditolak' Kedokteran UGM
    Ilmuwan diaspora Indonesia di Technische Universität Braunschweig, Germany, Hutomo Suryo Wasisto. Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.
    Jakarta:  Meski secara keilmuan, Hutomo Suryo Wasisto, 32 tahun, ilmuwan diaspora Indonesia 'dibesarkan' di Jerman, namun jiwanya selalu terusik untuk berbuat banyak bagi Tanah Airnya. Saintis kelahiran kota gudeg ini membuka dirinya untuk menjembatani sebanyak-banyaknya akademisi Indonesia, untuk mendapatkan manfaat keilmuwan Jerman yang ia miliki.

    Pria yang akrab disapa Ito ini sukses menjadi saintis di Jerman. Bergelar Doktor-Ingenieur (Dr.-Ing.), saat ini ia bahkan menjadi Research Group Leader atau setara asisten profesor di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) and Institute of Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig, Germany.

    Berkat kepakarannya di bidang akademik, ia bahkan mendapat banyak keistimewaan berupa berbagai fasilitas serupa dengan yang dimiliki Presiden ke-3 Indonesia B.J Habibie saat di Jerman.  Ito menuturkan, perjuangannya menembus bahkan hinga mendapatkan permanent resident di negara Panser ini tidaklah instan.

    Kemudian Ito bercerita kepada Medcom.id tentang perjalanan karir akademiknya.  Jebolan SMA Negeri 3 Yogyakarta ini memang sudah menonjol potensi akademiknya sejak di bangku sekolah.

    Bersekolah di SD Negeri 1 Purbalingga, Jawa Tengah, Ito kecil sudah menjadi langganan juara kelas.  Tak main-main, mulai kelas satu sampai kelas enam predikat sebagai juara kelas terus menempel pada dirinya. Menurut Ito, hal itu tak lepas dari didikan orang tuanya. 

    "Saya tuh orangnya enggak minderan, berkat didikan orang tua saya. Orang tua saya selalu menanamkan, jangan lihat kamu di mana yang penting kamu harus terbaik di manapun kamu berada," ungkap Ito kepada Medcom.id, Jakarta, Sabtu, 17 Agustus 2019.

    Baca:  'Merdeka' itu Berani Berkompetisi Global

    Selain bekal akademik yang baik, Ito juga dianugerahi tumbuh dalam suasana berkompetisi sejak kecil.  Anak kedua dari tiga bersaudara ini juga sudah merasakan atmosfer kompetisi di keluarganya.

    Jadi Ilmuwan di Jerman, Terima Kasih Pernah 'Ditolak' Kedokteran UGM
    Hutomo Suryo Wasisto (kiri) saat sedang di laboratorium. Foto/Dok. Pribadi.


    Sang kakak, merupakan "saingan terberatnya". Hanya selisih satu tahun usian keduanya, membuat berkompetisi secara sehat dalam meraih presetasi akademik selalu terasa seru baginya.

    "Saya ada kakak, sejak kecil sering 'berkelahi' sama dia, tapi berkelahi positif. Kita di rumah pun ada kompetisi, nunjukin kita terbaik. Kakak saya juara dari SD, jadi juara paralel, kami satu SMP, satu SD. Kita topnya lah juara satu," ceritanya.

    Ito memiliki prinsip semakin di-challenge maka ia akan semakin penasaran. "Semakin ingin membuktikan, itu kenapa saya bisa survive di Jerman, karena terbiasa seperti itu," ungkapnya. 

    Persaingannya dengan sang kakak terus berlanjut. Karena kakaknya terlebih dahulu masuk Padmanaba (sebutan lain untuk SMAN 3 Yogyakarta) dan tetap berprestasi. Ito pun mengaku harus menerima nasib berada di bawah "nama besar" sang kakak sepanjang berseragam "abu-abu putih".  

    "Kakak saya juara 1 juga, dari daerah, juga habis itu SMA 3 Jogja, juara paralel. Ketika saya masuk saya dikenalnya bukan sebagai Ito, saya dikenalnya adiknya Adiguno (Kakak Ito), enggak tahu nama. Oh kamu adiknya Adiguno ya," katanya.

    Pada saat SMA ia membuktikan, bahwa ia bukan jago kandang. Di luar kandang pun ia tetap meraih prestasi. Bahkan Ito sampai masuk kelas akselerasi, alhasil ia pun lulus bebarengan dengan kakaknya.

    "Untuk itu, saya enggak mau dikenal sebagai adiknya Adiguno semata, di situ saya berusaha untuk berprestasi, saya bukan orang yang suka protes segala macam, saya berterima kasih juga kepada kakak saya, meski di awalnya sudah terkenal dalam tanda kutip," ujarnya kesal.

    Di SMA, Ito pun berhasil mengejar prestasi sang Kakak, dengan lulus bersamaan bahkan menjadi salah satu terbaik di kelas akselerasi. "Di kelas akselerasi saya ranking dua," lanjutnya.

    Ito yang juga dikenal sebagai Abas alias anak basket ini mengungkapkan, saat SMA sebenarnya ia  benci pelajaran bahasa Jerman.  Ia mengaku sering membolos waktu mata pelajaran bahasa Jerman berlangsung.

    Namun ternyata, mata pelajaran yang ia benci itu justru yang saat ini membawanya menjadi Research Group Leader Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) and Institute of  Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Germany. Ito kini sangat lancar berbahasa Jerman. 

    "Jadi hidup saya gini, apa yang saya benci itu yang saya alami, saya hadapin.  Tapi saya punya prinsip apapun yang saya hadapi, saya harus lakukan the best-nya, saya harus lakukan the best di situ," kata laki-laki 32 tahun itu.

    Saat masuk kuliah, akhirnya ia bisa lepas dari bayang-bayang sang kakaknya.  Masuk jenjang kuliah, ia pun menghadapi pilihan, karena terlahir dari keluarga dokter, Ito pun memilih Fakultas Kedokteran di Universitas Gadjah Mada (UGM) di urutan pertama saat penerimaan mahasiswa baru.

    Baca:  Kualitas Ilmuwan Diaspora Tak Kalah dengan Rektor Asing

    Ito mengaku tak punya pandangan prodi lain kala mendaftar di UGM, sebab sejak kecil ia didoktrin untuk memilih kuliah di fakultas kedokteran.  Penggemar klub Manchester United ini berkelakar, andai semua pilihan boleh diisi kedokteran, maka ia akan mengisinya dengan kedokteran.

    "Bapak ibu saya maunya saya jadi dokter, otomatis dari kecil sudah dicekokkin 'kamu mbok ya jadi dokter saja, didoktrin, di bawa ke rumah sakit, ke apotek, saya enggak ada kepikiran mau jadi lainnya sepertu bidang teknik, jurnalis, atau seniman. Enggak ada pikiran lain, tapi dokter, dokter, dokter," sebutnya.

    Akhirnya ia pun memilih jurusan teknik untuk pilihan kedua dan ketiga, usai mendengar celetukan pamannya. "Kedua apa nih saya bingung dong, om saya nyelutuk sudah teknik aja, bagus teknik," cetusnya.

    Ia mengaku tak sembarang memilih jurusan teknik, ia memilih teknik elektro dan teknik sipil, yang passing grade-nya tertinggi. Ito termotivasi untuk menaklukkan kedua jurusan tersebut.

    "Tantangan, balik lagi yo wes, ya sudah yang paling tinggi apa, teknik elektro ya teknik elektro, berikutnya apa? Teknik sipil," tuturnya.

    Alhasil, meski digadang-gadang menjadi dokter, nasib malah membawa Ito ke jurusan teknik elektro. Sempat frustasi karena pilihan pertamanya gagal, padahal selama ini ia dikenal belum pernah gagal dalam akademik.

    "Pengumuman, zamannya warnet, malam-malam stressed saya, klik masukkan nomer registrasi, selamat anda diterima di UGM bawahnya jurusan teknik elektro, ini kayaknya salah deh ini, saya logout login lagi, karena enggak percaya gagal masuk kedokteran," ucapnya sambil tertawa mengenang masa awal menjadi calon mahasiswa UGM.

    Jadi Ilmuwan di Jerman, Terima Kasih Pernah 'Ditolak' Kedokteran UGM
    Hutomo Suryo Wasisto (kiri) saat sedang di laboratorium. Foto/Dok. Pribadi.

    Meski begitu ia menerima takdirnya untuk masuk jurusan teknik elektro dan kini justru berterima kasih karena ditolak fakultas kedokteran UGM.  "Karena kalau diterima di kedokteran mungkin jalan hidup saya bisa jadi lain ceritanya," terang dia.

    Ia pun menjalaninya dengan motivasi tinggi untuk menjadi yang terbaik dan tercepat.  Sejak masuk UGM, kemudian Ito bercita-cita akan ke Jerman setelah lulus.

    Ito ingin mendapatkan gelar yang sama dengan idolanya Presiden ke-3, B.J Habibie, Dr. Ing, yang selama ini hanya ia ketahui dari pemberitaan di media massa.

    "Ketika S1 saya cuma baca artikel di koran, peran media saya baca di koran lihat di TV profesor Dr. -Ing BJ Habibie, ternyata Dr -ing (Doktor ilmu teknik) dari Jerman itu keren. Saya ingin punya Dr. -ing seperti Pak Habibie idola saya," tuturnya.

    Motivasi itu yang membuat Ito lulus UGM dengan cepat. Mengambil konsentrasi Teknik Informatika ia juga menjadi salah satu lulusan terbaik dan satu-satunya mahasiwa yang lulus cepat di angkatannya.

    "Ternyata saya dulu benci elektronik nanomaterial segala macam, benci sekali.  S1 belajar  informatika lulusan terbaik tercepat, ketika saya lulus enggak ada angkatan saya yang lulus bareng, lulusan pertama IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) paling tinggi, top urutan ketiga lulusan terbaik di fakultas teknik," kata penggemar Kobe Bryant ini.

    Sempat ingin kerja di bidang perminyakan seusai lulus, Ito malah mendapat wejangan dari ayahanda, untuk kuliah ke luar negeri, melihat kehidupan di luar. 

    "Bapak saya bilang, Tok (Ito) coba kamu keluar dulu lihat dunia luar, hidup enggak harus di perusahaan minyak, kamu nanti sudah kenal duit nanti akan males untuk kuliah lagi.  Kala itu saya sudah ada tawaran kerja di 'minyak', lalu di 'semen', akhirnya saya memutuskan lanjut kuliah ke Taiwan," ungkapnya.

    Di Taiwan ia mendapatkan beasiswa Master by Research di Asia University, Taichung, Taiwan. Lagi-lagi ia mendapatkan sesuatu yang ia benci, yakni harus belajar teknik semi konduktor, belajar membuat transistor, Integrated Circuit (IC). Meski benci namun ia berhasil lulus Cum Laude dari Taiwan.

    "S1 saya benci itu, fisika semi konduktor. Tapi karena prinsip saya 'enggak ada orang bodoh yang ada hanya orang malas' maka saya belajar keras untuk menaklukkan apa yang saya benci itu," ucapnya.

    Lulus dari Taiwan, ia mendapat kerja di Jerman sesuai mimpinya. Ito bekerja sebagai Research Scientist (Wissenschaftlicher Mitarbeiter) di Institute of Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Germany.

    Ia juga berhasil mewujudkan mimpinya untuk mendapatkan gelar Doktor.-ing in Electrical Engineering, Information Technology, and Physics di kampus yang sama.

    Tak main-main, ia mendapatkan Summa Cum Laude saat berusia 26 tahun. Predikat itu lagi-lagi sama dengan yang diraih idolanya B.J. Habibie.

    Ito pun sempat ke Amerika untuk Postdoctoral Research di Georgia Institute of Technology, Atlanta, GA, USA.  Postdoctoral research (riset pascadoktoral) adalah riset yang dilakukan oleh individu yang baru menyandang gelar doktor (S3) dalam lima tahun terakhir.

    Hanya dua tahun di Amerika, kemudian ia diundang kembali ke Jerman.  Kembalinya Ito ke Jerman kali ini ia diganjar mendapatkan permanent resident dari pemerintah Jerman.  Lagi-lagi ia mendapatkan apa yang idolanya dapat ketika di Jerman.

    Bukan tanpa alasan, ia diundang kembali ke Jerman karena prestasinya. Publikasinya juga semakin banyak diakui.  Tercatat ia mempunyai 45 Jurnal internasional, 14 jurnal sebagai penulis pertama, empat penulis akhir.  Ia juga punya dua paten di Jerman dan Eropa.

    "Ketika saya ke Amerika, orang Jerman katanya rindu, katanya rindu enggak ada publikasi yang kayak kamu," ujarnya.

    Kembali ke Jerman ia pun menjadi group leader “Optoelectromechanical Integrated Nanosystems for Sensing (OptoSense)” di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) and Institute of Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Germany.

    "Memimpin grup di bidang yang tadinya saya benci. Ini bukan tema saya.  Tapi saya ada kesempatan, jadi saya berusaha fleksibel dan lakukan yang terbaik," kata fans klub sepak bola Jerman, Borusia Dortmund ini.

    Melalui karier akademiknya yang gemilang, Ito pun berhasil mewujudkan cita-citanya untuk membawa orang Indonesia ke Jerman.  Ia mendidik dan mengembalikan banyak akademisi Indonesia ke Tanah Air, salah satunya melalui Initiator and Chief Operating Officer (COO) Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano),Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Germany.

    Ia menilai, itu merupakan bentuk nasionalisme yang dapat ia berikan kepada bangsa Indonesia, meski pun secara keilmuan ia memang dibesarkan di Jerman.

    "Jangan sampai Ilmu saya dimanfaatkan hanya oleh Jerman saja.  Saya memang dibesarkan, diberikan akomodasi oleh Jerman, kasih pendidikan, saya lecture yang pakai bahasa Jerman. Cuma saya ingin berbuat sesuatu untuk bangsa saya.  Kebangsaan saya terusik," ujarnya.

    Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies merupakan kerja sama yang menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kemenristekdikti.  "Dengan pertukaran pelajar, dosen untuk belajar nanoteknologi lebih lanjut, saya ingin berbuat sesuatu untuk negara saya," tutupnya. 



    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    HOT ISSUE
    MORE

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id