Fifi Aleyda Yahya, VP Corporate Communication Media Group

    Pernah Ditarik Rambutnya Karena Enggak Bisa Bahasa Inggris

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 08 Juli 2020 19:04 WIB
    Pernah Ditarik Rambutnya Karena Enggak Bisa Bahasa Inggris
    Vice President Corporate Communication Media Group News, Fifi Aleyda Yahya. Foto: Dok. Pribadi
    Jakarta: Vice President Corporate Communication Media Group News, Fifi Aleyda Yahya membagikan ceritanya berpindah-pindah sekolah karena tugas ayahanda yang berprofesi sebagai diplomat.  Tinggal dan sekolah di berbagai negara membuat Fifi tumbuh menjadi pribadi yang luwes, luas pergaulan, percaya diri, serta 'tahan banting'. 

    Tercatat, Fifi sempat berpindah sekolah selama empat kali, mulai jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.  Fifi menuturkan, pertama kali ia berpindah sekolah adalah ke Kuwait ketika SD.

    Di sana ia mengaku sempat kesulitan untuk berdaptasi karena kendala bahasa. Selain tidak bisa bahasa Arab ia juga belum menguasai bahasa Inggris. 

    “Sebagai diplomat ya pindah-pindah. Ingat banget TK (Taman Kanak-kanak) di Jakarta, pindah ke Kuwait, baru terasa zaman itu enggak bisa bahasa Inggris sama sekali,” ujar Fifi dalam siaran langsung Instagram MetroTV, Selasa, 7 Juli 2020.

    Selain itu, kata Fifi, saat itu yang membuat berat adalah ia sedang senang-senangnya bermain dengan teman-teman dan keluarga di Indonesia. “Beda banget, enggak ada saudara, itu membekas. Rasanya sepi,” tutur jurnalis senior Metro TV ini.

    Baca juga:  Tips Meraih Beasiswa Pendidikan dari Rory Asyari

    Terkait kendala bahasa, Fifi mengisahkan hari pertamanya masuk sekolah ia sempat ditanya nama oleh temannya.  Namun karena pertanyaan disampaikan dalam bahasa Inggris, Fifi pun tidak merespons.

    Sebab ia tidak mengerti harus menjawab apa.  Padahal sudah sempat mengikuti les bahasa Inggris sebelum masuk sekolah.  Karena itu ia sampai ditarik rambutnya, karena berkali-kali ditanya namun tidak memberi jawaban.

    “Saya duduk di depan, di belakang ada anak cowok ngomong tapi Saya enggak ngerti, dan Saya enggak berani nengok. Dia tanya What is your name? Itu pengalaman masuk sekolah pertama. Rambut saya kuncir dua ditarik, karena enggak jawab,” ungkapnya.

    Problem bahasa itupun akhirnya ia atasi hanya dalam waktu dua bulan, sehingga sudah bisa berkomunikasi dengan lebih baik.  Bahkan dengan kemampuan bahasa Inggrsi yang semakin baik,  Fifi mulai memiliki banyak teman dan sahabat.

    “Sudah punya sahabat, bahkan ikut tim atletik,” ucapnya.

    Baca juga:  Perjuangan Anak Desa, Lulusan Michigan Kini Stafsus Menteri Desa

    Fifi sekolah di Kuwait hinga kelas 5 SD, kemudian harus pindah lagi ke Jakarta. Di Jakarta Fifi ketika SMP mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakkan.  Ia kembali diejek, karena tidak lancar berbahasa Indonesia.

    “Lumayan sedih, diledekkin karena bahasa Indonesianya enggak oke banget. Anak saya harus bisa bahasa Indonesia yang baik dan benar, karena saya ngalamin itu enggak enak banget, diledekin,” tuturnya.

    Tak berselang lama, Fifi pun kembali ikut orang tuanya pindah ke Pakistan.  Tepatnya di Islamabad ibu kota Pakistan. Di sana Fifi sempat terkejut karena dari ibu kota Jakarta yang ramai pindah ke Islamabad yang sepi meski menyandang status sebagai ibu kota.

    “Pindah kultur lagi, beda banget ibu kota sepi. Ada culture shock dari Jakarta yang rame, teman sedikit, kegiatan juga enggak banyak,” ujarnya.

    Ia di Islamabad sampai lulus SMA dan karena sepi tidak banyak teman dan kegiatan, Fifi kemudian diberikan kesempatan untuk belajar budaya dan seni Indonesia. “Dikasih list, belajar tarian tradisional. Kita juga harus belajar gamelan, karena kota sepi teman terbatas, dikasih kegiatan,” kata Fifi.

    Akhirnya ia pun melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti.  Fifi menuturkan, pengalamannya berpindah-pindah sekolah dan negara ini membuatnya percaya diri ketika kuliah.

    “Itu saya excited, seru banget kembali ke Jakarta yang rame, dan karena waktu sudah lulus SMA jadi tahan banting,” tuturnya

    Ia pun menuturkan, bahwa penting ketika di perguruan tinggi lebih aktif untuk membangun jaringan. Salah satu yang ia lakukan adalah dengan mengikuti ajang Abang-None Jakarta.

    “Kesempatan dari kuliah banyak teman. Akan membuka pintu-pintu lain, menempuh pendidikan. Salah satu kegiatan, komitmen Pemprov DKI memberi wadah anak muda membuka potensi,” ungkap None Jakarta tahn 1995 ini.




    (CEU)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id