Dosen UGM Temukan Metode Penghilang Limbah Merkuri

    Muhammad Syahrul Ramadhan - 25 Februari 2020 09:09 WIB
    Dosen UGM Temukan Metode Penghilang Limbah Merkuri
    Dosen sekaligus peneliti Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM, Ir. Agus Prasetya, M.Eng.Sc., Ph.D., Foto:UGM/Humas
    Jakarta:  Dosen sekaligus peneliti Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Agus Prasetya, M.Eng.Sc., Ph.D., mengembangkan penelitian metode penghilangan merkuri dari dalam air dengan menggunakan bahan lokal.  Penelitian ini dilatarbelakangi keprihatinan akan dampak buruk pencemaran limbah merkuri, akibat penambangan emas ilegal.

    “Penelitian ini berawal dari keprihatinan kami di grup riset tentang masalah pencemaran merkuri akibat tambang emas skala kecil dan ilegal yang dalam praktiknya itu hampir semua menggunakan merkuri, dan cemaran-cemaran merkuri itu tersebar dalam limbah tambang, masuk ke air, kemudian menyebar ke mana-mana,” terang Agus, dikutip dari laman UGM, Jakarta, Senin, 24 Februari 2020.

    Memang, terang Agus, cemaran dari limbah merkuri memiliki segudang dampak buruk. Baik untuk lingkungan maupun bagi kehidupan manusia itu sendiri.   Cemaran merkuri bisa menimbulkan berbagai penyakit degeneratif pada anak-anak di sekitar lokasi penambangan.

    Ia menyebut beberapa kasus yang sempat muncul, seperti kerapuhan tulang, imbisil atau keterbelakangan mental, serta bayi yang lahir tanpa tengkorak kepala.

    “Jadi, problemnya tidak hanya pada penambang dan rakyat yang menambang, tapi kepada generasi-generasi berikutnya, kepada anak cucu,” ungkapnya.

    Dalam penelitiannya, konsep yang ia gunakan untuk remediasi atau membersihkan merkuri dari air yang terkontaminasi oleh merkuri adalah dengan cara mengombinasikan antara adsorpsi dengan fitoremediasi atau pengambilan merkuri oleh tanaman. Adapun tanaman yang ia gunakan adalah tanaman lokal.

    “Pada penelitian ini yang kita cobakan baru melati air. Tapi terbuka kemungkinan bisa coba tanaman-tanaman yang lain,” kata Agus.

    Tercatat dari penelitian yang dilakukan pada skala laboratorium, metode tersebut terbukti mampu menghilangkan 90 persen kandungan merkuri pada air yang tercemar. Penelitian ini sendiri telah dipublikasikan dalam salah satu jurnal ilmiah bereputasi yaitu Journal of Environmental Chemical Engineering, dengan judul “Characteristic of Hg Removal Using Zeolite Adsorption and Echinodorus palaefolius Phytoremediation in Subsurface Flow Constructed Wetland (SSF-CW) Model”.

    “Yang kita cobakan itu adalah air yang mengandung merkuri 20 ppm, dan setelah kita coba menggunakan alat yang mengombinasikan adsorpsi dan fitoremediasi keluarnya itu sudah 2 ppm.  Setelah merkurinya tertangkap oleh zeolit dan tanaman, merkurinya tidak lepas dari zeolit, artinya itu terstabilkan,” terangnya.

    Agus berharap penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan pengujian di skala lapangan melalui kerja sama dengan pakar dari beberapa bidang ilmu lainnya. Dengan uji lapangan, akan terlihat prospek dari metode tersebut untuk dapat diterapkan di lokasi-lokasi yang telah tercemar merkuri.

    “Ini teknologi yang tidak rumit sekali yang itu bisa diterapkan sebetulnya oleh masyarakat jika mereka diajari caranya,” tandasnya.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id